Hadapi Ancaman El Nino, Mentan Santai: Indonesia Sudah Punya Pengalaman
📅 Minggu, 05 Apr 2026, 17:35 WIB | Oleh: Tim PenulisMAKASSAR – Mitigasi dampak El Nino di sektor pangan belakangan jadi topik yang makin sering dibahas, tapi sebenarnya inti ceritanya cukup sederhana: bagaimana caranya tetap menjaga pasokan pangan aman meski cuaca lagi “nggak bersahabat”.
Saat El Nino datang, curah hujan biasanya berkurang dan musim kemarau bisa terasa lebih panjang. Dampaknya langsung terasa di sektor pertanian—lahan jadi lebih kering, risiko gagal panen meningkat, dan produksi pangan bisa ikut menurun. Nah, di sinilah pentingnya langkah mitigasi yang nggak cuma reaktif, tapi juga lebih siap dari awal.
Beberapa upaya yang mulai banyak dilakukan misalnya pengaturan pola tanam agar lebih menyesuaikan dengan kondisi cuaca, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, hingga optimalisasi irigasi supaya air tetap bisa dimanfaatkan secara efisien. Di sisi lain, pemerintah dan pelaku usaha juga biasanya mulai memperkuat cadangan pangan untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan produksi.
Yang menarik, kesadaran untuk lebih adaptif ini pelan-pelan mulai tumbuh di kalangan petani. Mereka nggak lagi sepenuhnya bergantung pada pola musim yang “dulu”, tapi mulai lebih fleksibel dan terbuka terhadap teknologi maupun informasi cuaca.
Meski tantangannya nggak kecil, mitigasi dampak El Nino di sektor pangan pada akhirnya soal kesiapan dan kolaborasi. Selama langkah-langkahnya dilakukan lebih awal dan konsisten, dampaknya bisa ditekan—jadi bukan sekadar bertahan, tapi juga tetap produktif di tengah cuaca yang tak menentu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia memiliki pengalaman kuat dalam menghadapi El Nino, sehingga mampu menjaga stabilitas produksi pangan nasional melalui berbagai strategi adaptasi dan mitigasi yang terukur.
"(El Nino) Godzilla kan katanya kering enam bulan. Tapi sepertinya masih lebih tinggi dulu El Nino yang dulu (tahun) 2015. Kami sudah pengalaman mengelola El Nino bersama teman-teman (di tahun) 2015, 2023, 2024. La Nina, El Nino," kata Mentan ditemui di sela-sela meninjau Gudang Bulog Panaikang di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (5/4).
Mentan mengakui dampak cuaca ekstrem panas mulai dirasakan dan berpotensi mempengaruhi produksi pertanian. Namun, pemerintah telah memiliki pengalaman dalam menghadapi kondisi serupa pada tahun-tahun sebelumnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia juga menekankan berbagai langkah strategis telah dilakukan untuk memperkuat sistem produksi, mulai dari peningkatan pompanisasi hingga optimalisasi lahan rawa.
Kementerian Pertanian akan mengoptimalkan pengoperasian 80.158 unit pompa air yang telah disalurkan pada 2025 kepada kelompok tani untuk menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino ekstrem mulai April 2026 secara nasional.
Bahkan Mentan menyatakan pemerintah segera menambah sekitar 40 ribu unit pompa air guna mengantisipasi potensi kemarau panjang tahun ini demi menjaga ketersediaan air pertanian nasional yang stabil bagi petani Indonesia.
“Aku tambah pompanisasi. Ya, mudah-mudahan 40 ribu. Jadi, semakin kuat. Jadi, nggak usah khawatir El Nino karena pertahanan kita kuat. Karena kita sudah ada pompanisasi, sudah ada irigasi, kemudian oplah tanah rawa yang kita tanami dulu, kita perbaiki irigasinya, tanam 1 kali, jadi 2 kali, 3 kali,” jelasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak khawatir terhadap kondisi cuaca ekstrem yang terjadi saat ini, karena pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi yang terukur.
“Jadi, sudah aman. Pangan aman,” tegasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!