Rendahnya Emisi Vulkanik Sebabkan Bumi Serupa Bola Salju
📅 Rabu, 21 Feb 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoZaman es yang diperpanjang, juga disebut glasiasi Sturtian. Nama ini diambil dari nama penjelajah kolonial Eropa abad ke-19 di Australia tengah, Charles Sturt. Periode ini berlangsung dari 717 hingga 660 juta tahun yang lalu, jauh sebelum muncul dinosaurus dan kehidupan tumbuhan kompleks di darat.
"Berbagai penyebab telah dikemukakan sebagai pemicu dan berakhirnya zaman es ekstrem ini, namun aspek yang paling misterius adalah mengapa hal itu berlangsung selama 57 juta tahun rentang waktu yang sulit dibayangkan oleh kita sebagai manusia," kata Dr Dutkiewicz.
Tim kembali ke model lempeng tektonik yang menunjukkan evolusi benua dan cekungan samudra setelah pecahnya benua super kuno Rodina. Mereka menghubungkannya dengan model komputer yang menghitung pelepasan gas CO2 dari gunung berapi bawah laut di sepanjang pegunungan tengah laut tempat di mana lempeng-lempeng menyimpang dan terbentuknya kerak laut baru.
Mereka segera menyadari bahwa dimulainya zaman es Sturtian berkorelasi dengan rendahnya emisi CO2 vulkanik, yang muncul karena ada peristiwa letusan gunung api. Akibatnya aliran CO2 tetap relatif rendah sepanjang zaman es.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saat ini, tidak ada hewan multiseluler atau tumbuhan darat di Bumi. Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer hampir seluruhnya ditentukan oleh pelepasan gas CO2 dari gunung berapi dan proses pelapukan batuan silikat, yang mengonsumsi CO2," ungkap dia.
Rekan penulis Profesor Dietmar Muller dari Universitas Sydney mengatakan, geologi menguasai iklim pada saat ini. Ia berpikir zaman es Sturtian terjadi karena dua hal pertama reorganisasi lempeng tektonik yang meminimalkan pelepasan gas vulkanik, sekaligus menghancurkan benua. Kedua provinsi vulkanik di Kanada mulai terkikis, menghabiskan CO2 di atmosfer.
"Hasilnya adalah CO2 di atmosfer turun ke tingkat di mana terjadi glasiasi yang kami perkirakan berada di bawah 200 bagian per juta, kurang dari setengah tingkat saat ini," kata Muller.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pekerjaan tim ini menimbulkan pertanyaan menarik tentang masa depan Bumi dalam jangka panjang. Sebuah teori baru-baru ini mengusulkan bahwa selama 250 juta tahun ke depan, Bumi akan berevolusi menuju Pangea Ultima, sebuah benua super yang sangat panas sehingga mamalia mungkin punah.
Namun, saat ini Bumi juga berada pada jalur emisi CO2 vulkanik yang lebih rendah, seiring dengan meningkatnya tumbukan benua dan melambatnya lempeng bumi. Jadi, mungkin saja Pangea Ultima akan kembali berubah menjadi bola salju.
"Apa pun masa depan, penting untuk dicatat bahwa perubahan iklim geologis, seperti yang dipelajari di sini, terjadi sangat lambat. Menurut NASA, perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia terjadi dengan kecepatan 10 kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya," ucap Dr Dutkiewicz. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!