Rendahnya Emisi Vulkanik Sebabkan Bumi Serupa Bola Salju
📅 Rabu, 21 Feb 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Professor Dietmar Müller/University of Sydney
Ratusan juta tahun yang lalu hampu seluruh permukaan Bumi tertutup salju. Penyebabnya diperkirakan adalah karena emisi vulkanik yang rendah dan peristiwa pelapukan batuan.
Menurut hipotesis geohistoris pada kira-kira 650 juta tahun yang lalu Bumi dahulu berbentuk bola salju (snowball Earth). Hampir seluruh permukaan planet ini beku tanpa adanya cairan samudra atau air permukaan yang terpapar ke atmosfer.
Para pendukung hipotesis ini berpendapat bahwa hipotesis ini paling baik dengan bukti adanya endapan sedimen yang umumnya diyakini berasal dari glasial di paleolatitude tropis dan fitur misterius lainnya dalam catatan geologi.
Namun para penentang hipotesis ini membantah bukti geologis mengenai glasiasi global dan kelayakan geofisika lautan yang tertutup es atau lumpur. Mereka menekankan sulitnya keluar dari kondisi yang seluruhnya beku.
Selama ini masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab terkait hipotesis tersebut. Misalnya apakah Bumi berbentuk bola salju penuh dengan perairan terbuka tipis di khatulistiwa (atau terbuka secara musiman).
Sebaiknya Anda baca juga:
Episode bola salju Bumi diperkirakan terjadi sebelum terjadi radiasi tiba-tiba bioform multiseluler yang dikenal sebagai ledakan Kambrium. Peristiwa ini kemungkinan telah memicu evolusi multiselularitas berupa diversifikasi organisme-organisme lainnya seperti hewan, fitoplankton dan kalsimikroba.
Lalu apa yang membuat Bumi menjadi bola salju raksasa 700 juta tahun yang lalu? Para ilmuwan kini mengklaim memiliki jawabannya. Secara historis, emisi vulkanik yang rendah dan peristiwa pelapukan kemungkinan besar menjadi penyebabnya
Dr Adriana Dutkiewicz terinspirasi selama kunjungan lapangan ke Flinders Ranges di Australia selatan untuk mengetahui bagaimana aktivitas vulkanik mengubah Bumi kita menjadi planet yang tertutup es. Bersama Profesor Dietmar Muller, keduanya dari Universitas Sydney dan kelompok EarthByte, mereka telah menghasilkan sebuah jawaban.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para ahli geologi dari Australia itu menggunakan pemodelan lempeng tektonik untuk menentukan penyebab paling mungkin terjadinya iklim zaman es ekstrem dalam sejarah bumi. Periode terjadinya lebih dari 700 juta tahun yang lalu.
Studi yang dipublikasikan di jurnalGeologyini untuk membantu pemahaman tentang fungsi termostat bawaan Bumi yang mencegah bumi terjebak dalam mode panas berlebih. Hal ini juga menunjukkan betapa sensitifnya iklim global terhadap konsentrasi karbon di atmosfer.
"Bayangkan Bumi hampir sepenuhnya membeku," kata penulis utama studi tersebut, Dr Adriana Dutkiewicz, ARC Future Fellow, Universitas Sidney. "Itulah yang terjadi sekitar 700 juta tahun lalu; planet ini tertutup es dari kutub hingga khatulistiwa dan suhu turun drastis. Namun, apa yang menyebabkan hal ini masih menjadi pertanyaan terbuka," kata dia.
"Kami kini berpikir bahwa kami telah memecahkan misteri ini: emisi karbon dioksida vulkanik yang secara historis rendah, dibantu oleh pelapukan tumpukan besar batuan vulkanik di tempat yang sekarang disebut Kanada; sebuah proses yang menyerap karbon dioksida di atmosfer," tutur dia.
Proyek ini terinspirasi oleh puing-puing glasial yang ditinggalkan oleh glasiasi kuno dari periode ini yang dapat diamati secara spektakuler di Flinders Ranges. Kunjungan lapangan geologi baru-baru ini ke tempat itu yang dipimpin oleh rekan penulis Profesor Alan Collins dari Universitas Adelaide, mendorong tim untuk menggunakan model komputer EarthByte dari Universitas Sydney untuk menyelidiki penyebab dan durasi yang sangat lama dari zaman es ini.
Glasiasi "Sturtian"
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!