Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hadapi Tantangan dan Risiko, Riset Ungkap 3 Dilema Profesi Jurnalis

📅 Sabtu, 23 Des 2023, 13:51 WIB | Oleh: Tim Penulis

Kedua, dilema terhadap kondisi dan beban kerja. Beberapa jurnalis menyebut bahwa beban kerja mereka sebagian besar dibagi menjadi dua: beban kerja dengan target kuantitas, misal harian atau mingguan; dan beban kerja yang berbasis pada isu.

Hanya media-media tertentu saja yang memiliki kemewahan membuat jurnalisnya bekerja berdasarkan isu tanpa mempertimbangkan kuantitas. Sebagian besar media digital masih menggunakan ukuran jumlah berita yang diproduksi harian. Kondisi ini dalam beberapa kasus dapat berujung pada bentuk eksploitasi jurnalis, meskipun tidak dilakukan dengan sengaja.

Di Yogyakarta, misalnya, 12 mantan jurnalis media daring Akurat.co menggugat media tersebut. Penyebabnya, manajemen memecat mereka setelah para jurnalis tersebut mencoba bernegosiasi terkait dengan target produksi 200 berita/artikel per hari sementara jumlah penulisnya terbatas.

Mirisnya lagi, kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi tersebut, baik terkait status maupun beban kerja, kerap "ditutup" dengan refleksi diri "daripada tidak ada pekerjaan sama sekali, kondisi ini mesti disyukuri". Pada akhirnya semua itu mereka anggap sebagai risiko menjadi jurnalis.

Yang mengejutkan, dilema semacam ini telah dinormalisasi sejak di dunia kampus. Dalam survei yang saya lakukan bersama Remotivi (2021), saya menemukan bahwa kondisi kerentanan ini sudah dipahami oleh mahasiswa studi jurnalisme dan komunikasi. Mereka menyampaikan bahwa pekerjaan di industri media bukanlah pekerjaan yang bisa mendatangkan kesejahteraan finansial. Dan karena itu, sebagian besar responden sulit untuk membayangkan akan memiliki karier sebagai jurnalis sampai usia pensiun.

Ketiga, kesulitan-kesulitan yang dihadapi tersebut kemudian menjadikan jurnalisme sebagai profesi sementara. Profesi sebagai jurnalis menawarkan kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dan berjejaring, yang kemudian digunakan sebagai ruang untuk membuka pintu pekerjaan yang baru.

Kondisi ini sangat bisa dipahami, namun dalam jangka panjang ini bisa menjadi ancaman bagi eksistensi jurnalisme di Indonesia.

Problem struktural

Ketidakpastian dan kerentanan akan kesejahteraan dalam profesi jurnalis bukan proses yang terjadi di ruang vakum. Pilihan yang diambil seorang jurnalis ketika memutuskan meninggalkan industri media tidak serta merta hanya persoalan pilihan individual. Ini secara tidak langsung menunjukkan adanya problem struktural dalam ekosistem media di Indonesia. Oleh karenanya, penting untuk mulai mendiskusikan upaya stuktural untuk problem yang dihadapi.

Diskusi bisa dimulai dengan memetakan kondisi yang terjadi saat ini. Upaya semacam ini sebenarnya sudah sering dilakukan, salah satunya oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) misalnya, yang sering melakukan survei upah layak.

Dari sana kita bisa melihat betapa timpangnya kondisi kesejahteraan profesi jurnalis dengan sebagian besar profesi lainnya. Namun, kita juga butuh gambaran yang lebih luas dalam skala nasional karena setiap daerah memiliki tantangan dan kondisi yang berbeda.

Regulator media dan pemerintah harus segera mendorong munculnya jalan keluar yang membuat kesejahteraan jurnalis bisa terjamin dan berkelanjutan. Upaya yang mesti terus dilakukan jika tidak ingin kondisi jurnalisme semakin memburuk dan terus-menerus dalam bayang-bayang krisis.The Conversation

Wisnu Prasetya Utomo, PhD student at the School of Journalism, Media, and Communication, University of Sheffield

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Luar Negeri
Trump Teken Percepatan Tekn...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.