Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dampak Perlambatan Ekonomi Tiongkok Meluas ke Seluruh Dunia

📅 Senin, 28 Agu 2023, 17:25 WIB | Oleh:

Sejauh ini, sebenarnya volume komoditas seperti bijih besi atau tembaga yang dikirim ke Tiongkok masih bertahan. Namun jika perlambatan terus berlanjut, pengiriman bisa terkena dampaknya, yang akan berdampak pada para penambang di Australia, Amerika Selatan, dan negara lain di seluruh dunia.

Tekanan deflasi

Harga produsen di Tiongkok telah mengalami kontraksi selama 10 bulan terakhir, yang berarti harga barang yang dikirim dari negara tersebut turun. Hal ini merupakan kabar baik bagi masyarakat di seluruh dunia yang masih berjuang menghadapi inflasi yang tinggi.

Harga barang-barang Tiongkok di dermaga AS telah turun setiap bulan pada tahun ini dan kemungkinan akan terus berlanjut hingga harga pabrik di Tiongkok kembali ke wilayah positif. Ekonom di Wells Fargo & Co. memperkirakan bahwa 'hard landing' di Tiongkok, yang mereka definisikan sebagai perbedaan 12,5 persen dari tren pertumbuhannya, akan memangkas perkiraan dasar inflasi konsumen AS pada tahun 2025 sebesar 0,7 poin persentase menjadi 1,4 persen.

Pariwisata lambat pulih

Konsumen Tiongkok menghabiskan lebih banyak uang untuk jasa, seperti perjalanan dan pariwisata, dibandingkan barang, namun mereka belum melakukan perjalanan ke luar negeri dalam jumlah besar. Hingga baru-baru ini, pemerintah telah melarang tur kelompok ke banyak negara dan masih terdapat kekurangan penerbangan, yang berarti biaya perjalanan jauh lebih mahal dibandingkan sebelum pandemi.

Pandemi dan lemahnya perekonomian telah membatasi pendapatan di Tiongkok, sementara kemerosotan pasar perumahan selama bertahun-tahun membuat pemilik rumah merasa kurang sejahtera dibandingkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan ke luar negeri mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk kembali ke tingkat sebelum pandemi, sehingga berdampak pada negara-negara yang bergantung pada pariwisata di Asia Tenggara seperti Thailand.

Dampak mata uang

Keterpurukan ekonomi Tiongkok telah mendorong nilai mata uangnya turun lebih dari 5 persen terhadap dolar pada tahun ini, dengan yuan hampir menembus angka 7,3 pada bulan ini. Bank sentral telah meningkatkan pertahanannya terhadap yuan melalui berbagai tindakan termasuk penetapan mata uang harian.

Depresiasi yuan di luar negeri mempunyai dampak yang lebih besar terhadap mata uang lain di Asia, Amerika Latin, dan blok Eropa Tengah dan Timur, menurut data Bloomberg, seiring dengan meningkatnya korelasi mata uang Tiongkok dengan mata uang lainnya.

Menurut Barclays Bank PLC, lemahnya sentimen limpahan dapat membebani mata uang seperti dolar Singapura, baht Thailand, dan peso Meksiko seiring dengan meningkatnya korelasi.

"Dengan melemahnya perekonomian Tiongkok, sangat sulit untuk optimis terhadap perekonomian dan mata uang Asia dan kami lebih khawatir terhadap mata uang yang terpapar logam," kata Magdalena Polan, kepala penelitian makro pasar negara berkembang di PGIM Ltd.

"Kelemahan dalam konstruksi Sektor ini mungkin akan mengalami penurunan mata uang negara-negara yang perekonomiannya didorong oleh komoditas, seperti peso Chili dan rand Afrika Selatan," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.