Kerusuhan Prancis, Pola Kemarahan yang Berulang tanpa Ada Resolusi
📅 Sabtu, 08 Jul 2023, 10:30 WIB | Oleh: Tim PenulisPertama, kebijakan di perkotaan Prancis itu meleset dari sasarannya.
Selama 40 tahun terakhir, banyak upaya yang dilakukan untuk memperbaiki perumahan dan fasilitas publik. Apartemen-apartemen kini lebih berkualitas. Pusat kegiatan sosial, sekolah, perguruan tinggi, dan jalur bus juga banyak bermunculan. Salah besar jika kita mengatakan lingkungan-lingkungan ini diabaikan.
Di sisi lain, percampuran sosial dan budaya di pinggiran kota yang kurang berkembang kerap membuat keadaan memburuk. Mayoritas penduduknya miskin atau tidak aman secara finansial, ataupun imigran dan keturunannya.
Mereka yang punya peluang dan sumber daya dapat meninggalkan daerah pinggiran itu. Namun, mereka kemudian digantikan oleh penduduk yang bahkan lebih miskin dari daerah yang lebih jauh. Jadi, meskipun infrastruktur lingkungan membaik, lingkungan sosialnya justru memburuk.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami sebenarnya enggan membahas ghetto, tapi proses sosial yang terjadi di sini memang bagian dari ghettoisasi. Kesenjangan yang tumbuh antarlingkungan, penahanan diri yang diperkuat dari dalam lingkungan masing-masing.
Bayangkan jika kamu pergi ke sekolah yang sama dan pusat sosial yang sama. Kamu lalu bersosialisasi dengan individu yang sama. Kamu pun terimbas aturan ekonomi yang kurang lebih sama.
Terlepas dari penggalangan bantuan dan itikad baik pejabat lokal, warga masih merasa dikucilkan dari masyarakat luar karena asal-usul, budaya atau agama mereka. Meskipun ada kebijakan sosial dan upaya para anggota dewan, lingkungan tersebut tetap merasa tidak memiliki sumber daya kelembagaan atau politik mereka sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Banlieues rouges" (pinggiran kota yang mayoritas dipimpin kelompok komunis) sangat dikontrol oleh partai politik, serikat pekerja, dan gerakan pendidikan populer. Sementara itu, warga di lingkungan tersebut tidak punya cukup ruang untuk bersuara. Banyak pekerja sosial dan guru yang punya niat baik, tetapi mayoritas dari mereka belum tinggal cukup lama di lingkungan tempat mereka bekerja.
Hambatan hubungan ini berlaku dua arah. Kerusuhan yang terjadi beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa perwakilan dan asosiasi terpilih tidak memberikan manfaat nyata terhadap lingkungan yang penduduknya merasa diabaikan dan ditinggalkan. Seruan untuk tenang tidak dihiraukan.
Kesenjangan ini bukan hanya perkara sosial, tapi juga politik.
Konfrontasi terus-menerus
Dalam konteks ini, konfrontasi yang dimaksud terjadi antara kaum muda dengan polisi. Kedua kelompok ini terlihat seperti "geng", lengkap dengan kebencian dan wilayahnya masing-masing.
Negara kemudian tereduksi menjadi simbol kekerasan hukum. Kaum muda menjadi potensi kebandelan. Polisi menilai dengan "mekanisme" rasisme dengan asumsi bahwa setiap anak muda adalah tersangka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!