Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menilik Fenomena Flexing dari Sudut Pandang Kesejahteraan

📅 Kamis, 25 Mei 2023, 11:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menilik Fenomena Flexing dari Sudut Pandang Kesejahteraan Doc: voi/isntagram/@donisalmanan
Ket. Gaya flexing Doni Salamanan yang kini dihukum empat tahun penjara karena kasus investasi bodong.

Novia Utami, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Belakangan, kita kerap menemukan warganet mengkritisi mereka yang melakukan flexing atau pamer kekayaan di dunia maya. Apalagi, banyak dari mereka yang flexing memiliki jabatan atau merupakan keluarga dekat dari pejabat di instansi pemerintahan.

Misalnya, media sempat dibuat heboh dengan kekayaan Rafael Alun Trisambodo dari Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Eko Darmanto yang menjabat sebagai Kepala Bea Cukai Yogyakarta, atau Esha Rahmansah Abrar dari Kementerian Kesekretarian Negara.

Fenomena flexing sebenarnya sudah lama merebak, seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial di Indonesia.

Flexing berasal dari bahasa Latin, flectere, yang artinya menekuk (to bend). Terminologi ini sudah digunakan dalam bahasa Inggris sejak awal abad ke-18 untuk menggambarkan gerakan tubuh seorang binaragawan yang memperlihatkan atau memamerkan tekukan otot-ototnya. Seiring berjalannya waktu, pemahaman modern membuat istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi saat seseorang memamerkan kekayaan, status sosial, dan pencapaian lainnya secara berlebihan.

Dalam hemat saya, salah satu dorongan orang melakukan flexing adalah karena baurnya persepsi mengenai kesejahteraan yang membuat orang-orang mencari validasi melalui unggahan media sosial.

Persepsi yang terdistorsi terkait kesejahteraan

Mengapa begitu banyak orang gemar flexing di media sosial?

Sejumlah orang beranggapan bahwa alasannya berkaitan dengan rendahnya self-esteem (persepsi nilai diri) seseorang, pengaruh intensitas penggunaan media sosial untuk tujuan pemasaran, serta kecenderungan narsistik manusia yang haus akan pujian.

Tak ada yang salah dengan jawaban-jawaban ini.

Namun, kita patut juga perlu melihat fenomena flexing ini dari bagaimana orang-orang mendefinisikan kehidupan yang "sejahtera".

Banyak orang percaya bahwa jalan terbaik untuk hidup sejahtera adalah dengan mengumpulkan harta kekayaan terus menerus karena hakikat manusia yang lekat dengan keinginan memenuhi kepentingan pribadi (self interest). Bahkan, dalam pemikiran klasik "invisible hand" yang dicetuskan oleh Adam Smith, permintaan barang dan jasa publik akan terpenuhi dengan sendirinya ketika manusia berfokus memenuhi kepentingan pribadinya.

Masalahnya, seseorang kerap tidak tahu apakah ia sudah cukup sejahtera atau belum karena sulitnya menakar kapan seseorang harus berhenti mengakumulasi kekayaan. Akibatnya, ia cemas dan terus mencari harta lagi dan tentu saja mencari pengakuan dari orang lain bahwa ia telah sejahtera.

Pola pikir tersebut berpotensi menjadi awal mula dari sebuah siklus hidup yang terus berulang: mengumpulkan harta kekayaan sebanyak banyaknya, membandingkannya dengan orang lain, melakukan flexing untuk mendapatkan pengakuan, tidak merasa puas akan kondisi hidupnya, kembali mengumpulkan harta kekayaan, dan berulang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Polisi Buru Pelaku Pencuria...
Ekonomi
Indonesia produksi beras te...

Pementasan prembon pada Pesta Kesenian Bali

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pementasan prembon pada Pes...

Upaya pengembangan komoditas hortikultura

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Upaya pengembangan komodita...

Tradisi pembuatan bubur Asyura

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Tradisi pembuatan bubur Asyura

.Penindakan pakaian bekas impor ilegal

43 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
.Penindakan pakaian bekas i...
Nasional
Bakti kesehatan memperingat...

PT KAI: Pelanggan Kereta Imperial Naik 162,04 Persen

48 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Ekonomi
PT KAI: Pelanggan Kereta Im...
Ekonomi
Ekspor mobil produksi dalam...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.