Menilik Fenomena Flexing dari Sudut Pandang Kesejahteraan
📅 Kamis, 25 Mei 2023, 11:37 WIB | Oleh: Tim PenulisTak hanya itu, hal ini juga berpotensi membuat orang untuk bertindak impulsif, termasuk melakukan hal hal yang melanggar hukum demi memanjakan ego dan hasrat tersebut. Masih lekat di benak kita influencer media sosial Indra Kenz, misalnya, yang terjerat kasus investasi bodong aplikasi perdagangan ilegal, Binomo.
Lalu, hidup yang "sejahtera" itu seperti apa?
Sayangnya, pada tataran akademis saja, terminologi kesejahteraan, khususnya kesejahteraan finansial (financial well-being), tidak memiliki definisi yang baku. Kalaupun ada, pemahaman mengenai kesejahteraan finansial hanya sebatas pemahaman umum saja.
Secara umum, kesejahteraan finansial merupakan kondisi ketika seseorang mampu memenuhi segala kebutuhannya, dan memilih gaya hidupnya tanpa berurusan dengan utang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam pemahaman ini, saya melihat ada masalah mengenai tolak ukur kesejahteraan.
Misalnya, apa yang dimaksud dengan mampu memenuhi segala kebutuhannya? Bagaimana mendefinisikan kebutuhan, dan apakah keinginan masuk sebagai kebutuhan? Kebutuhan yang mana? Apakah kebutuhan tersebut adalah secara psikologis atau kebutuhan secara sosiologis untuk mendapat pengakuan dari lingkungan?
Memang, sudah ada usaha untuk memberikan ukuran kesejahteraan finansial, misalkan saja skala yang dikembangkan oleh Consumer Financial Protection Bureau(CFPB), badan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang bertugas melindungi konsumen sektor finansial. Skala CFPB ini terdiri dari 10 pertanyaan yang menilai perasaan subjektif seseorang tentang kesejahteraan finansialnya. Pertanyaannya mencakup berbagai topik seperti keamanan finansial, manajemen keuangan, dan kebebasan finansial.
Sebaiknya Anda baca juga:
Atau, ada pula indeks kesehatan ekonomi yang dikembangkan oleh Center for Financial Services Innovation, lembaga penelitian nonprofit asal Swiss. Indeks CFSI ini mengukur kesehatan keuangan individu dalam delapan dimensi. Tujuannya adalah memberikan gambaran komprehensif tentang kesejahteraan finansial seseorang.
Tanpa adanya tolak ukur yang jelas, individu berpotensi terus menumpuk kekayaan dan mencari validasi lewat pandangan orang lain, misalnya flexing lewat media sosial, dan terjebak pada pengeluaran berlebih atau cara-cara ilegal untuk menambah cuan.
Pentingnya literasi keuangan
Tapi, pemecahan masalah tolak ukur ini pun belum tentu menjamin bahwa tren flexing kekayaan akan lenyap begitu saja. Sebab, jika merujuk pada filsuf dan pemikir politik asal Inggris, Thomas Hobbes, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tak pernah puas.
Walau begitu, ukuran kesejahteraan setidaknya dapat membantu kita agar tak tersesat di dunia yang cepat berubah. Apalagi, paparan yang terus menerus terhadap unggahan flexing bisa membuat seseorang terjerumus dalam perilaku konsumtif.
Agar terhindar dari persepsi yang terdistorsi terkait kesejahteraan, kita harus meningkatkan level literasi keuangan kita.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!