Pernyataan Diplomat Tiongkok Menuai Kemarahan Eropa karena Mempertanyakan Kedaulatan Negara-negara Bekas Uni Soviet
📅 Minggu, 23 Apr 2023, 23:55 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
PARIS - Negara-negara Eropa bereksi keras atas komentar Duta Besar Tiongkok untuk Prancis, Lu Shaye, yang mempertanyakan status hukum negara-negara bekas Uni Soviet dan kedaulatan Ukraina atas wilayah Krimea, Minggu (23/4).
Dilansir oleh Financial Times, Estonia, Latvia, dan Lituania, yang memperoleh kembali kemerdekaannya dari Uni Soviet pada awal 1990-an, mengatakan, mereka akan memanggil para duta besar Tiongkok pada Senin untuk mengadukan pernyataan Lu Shaye.
"Negara-negara bekas Uni Soviet ini tidak memiliki status efektif di bawah hukum internasional karena tidak ada kesepakatan internasional untuk mengkonkretkan status mereka sebagai negara berdaulat," kata Lu Shaye saat wawancara dengan saluran berita Prancis LCI.
Ketika ditanya apakah Krimea adalah bagian dari Ukraina, Lu mengatakan pertanyaan itu "tidak mudah dijawab dengan beberapa kata" dan menunjukkan bahwa Krimea dulunya milik Rusia, sambil mengabaikan bahwa Rusia secara ilegal mencaplok semenanjung itu pada 2014.
Pejabat Ukraina menolak komentar diplomat Tiongkok itu. "Semua negara pasca-Uni Soviet memiliki status kedaulatan yang jelas yang diabadikan dalam hukum internasional," cuit penasihat presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Aneh mendengar versi absurd dari 'sejarah Krimea' dari perwakilan negara yang sangat teliti tentang sejarah seribu tahunnya," tambah Podolyak.
Kementerian Luar Negeri Prancis juga menyatakan "kecewa" atas komentar Lu.
"Terserah Tiongkok untuk mengatakan apakah pernyataan ini mencerminkan posisinya, yang kami harap tidak," kata Kementerian Luar Negeri Prancis.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami berdiri dalam solidaritas dengan sekutu kami dan mitra yang terkena dampak, yang memenangkan kemerdekaan yang telah lama ditunggu-tunggu setelah puluhan tahun ditindas," ujarnya dengan menambahkan bahwa "pencaplokan Krimea adalah ilegal menurut hukum internasional".
Kehebohan terjadi setelah kunjungan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, baru-baru ini ke Beijing, di mana dia mengatakan bahwa rencana Tiongkok untuk Ukraina menunjukkan keinginan untuk memainkan peran yang bertanggung jawab dalam konflik tersebut. Macron kemudian menghadapi kritik karena menyarankan bahwa Uni Eropa harus menghindari terseret ke dalam ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terkait Taiwan.
"Jika ada yang masih bertanya-tanya mengapa negara-negara Baltik tidak mempercayai Tiongkok untuk 'memperantarai perdamaian di Ukraina, inilah duta besar Tiongkok yang berpendapat bahwa Krimea adalah Rusia dan perbatasan negara kita tidak memiliki dasar hukum," kata Menteri Luar Negeri Lituania, Gabrielius Landsbergisn
Komentar Lu bertentangan dengan kebijakan Tiongkok terhadap negara-negara bekas Soviet. Beijing membuka hubungan diplomatik dengan republik-republik merdeka ini pada September 1991.
"Lu Shaye memiliki opini radikal dan non-mainstream yang menyimpang dari posisi dan praktik resmi Beijing," kata pakar dari China Center di Yale Law School, Moritz Rudolf.
Menteri Luar Negeri Latvia, Edgars Rink?vi?s, menyebut komentar itu "sama sekali tidak dapat diterima.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!