Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Cerita Perburuan Paus di Indonesia yang Kini Tinggal Sejarah

📅 Selasa, 14 Mar 2023, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Perburuan paus sempat surut pada akhir abad 19 karena penemuan minyak bumi.

Namun, pada pertengahan abad ke-20, perburuan kembali meningkat-terutama karena kelangkaan minyak setelah Perang Dunia II. Inggris, Norwegia, Belanda, Uni Soviet dan Jepang tercatat menjadi negara yang dominan dalam perburuan paus periode komersial modern ini.

Perburuan fase ini ditandai dengan penggunaan kapal tenaga uap dan meriam tombak (harpoon cannon) yang diperkenalkan oleh pemburu paus Norwegia pada pertengahan abad ke-20. Kapal-kapal ini mampu memproses hasil buruan menjadi produk dagang diatas kapal dan di tengah laut. Minyak dari paus hasil buruan ini banyak digunakan sebagai bahan baku berbagai produk, misalnya sabun dan margarin.

Selain memburu paus balin terutama right whale, pemburu abad modern juga menyasar paus rorqual (utamanya paus biru, paus bongkok, paus sirip dan paus Sei) terutama di daerah lintang tinggi. Jepang kemudian menyusul dengan mengembangkan kapal bermesin diesel.

Setelah Perburuan Komersial Berakhir

Penemuan minyak bumi tahun 1860-an dan kemunculan produk pengganti dari produk paus (seperti minyak nabati dan bahan lain pengganti sikat balin) membuat perburuan paus tidak lagi menguntungkan.

Sejak dekade 60-an, perburuan paus juga mulai berkurang seiring penurunan populasi paus global dan faktor penentu lainnya seperti moratorium perburuan paus oleh Komisi Paus Internasional (Internasional Whaling Commision - IWC) pada 1986.

Sementara, Jepang dan Norwegia masih melanjutkan perburuan paus setelahnya dengan berlindung di bawah izin "riset saintifik" dan selalu mengajukan keberatan atas moratorium perburuan paus yang ditetapkan oleh IWC.

Pada abad 21, masih ada negara-negara yang masih melakukan perburuan paus seperti Kanada, Islandia, Jepang, Norwegia, Rusia, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan masyarakat di Pulau Faroe, di Denmark.

Negara pendukung perburuan paus terutama Islandia, Jepang, dan
Norwegia menginginkan pencabutan moratorium IWC terutama untuk stok paus jenis tertentu. Sementara negara antiperburuan paus dan aktivis lingkungan menolak pencabutan moratorium.

Untuk mengakomodasi praktik tradisional yang masih dilakukan oleh beberapa komunitas di dunia, perburuan paus tradisional masih dibolehkan dengan pengaturan yang ketat. Salah satu contohnya di Lamalera, Nusa Tenggara Timur,. Praktik ini merupakan bagian dari budaya masyarakat lokal dan telah dicatat oleh pelaut Portugis sejak tahun 1600an.

Di Lamalera, paus sperma menjadi target perburuan utama, dengan hasil tangkapan yang bervariasi saban tahun. Mereka menangkap 5 ekor pada tahun 1973; rata-rata 40 ekor per tahun antara tahun 1960an sampai pertengahan tahun 1990an, total 13 ekor dari tahun 2002-2006, rata-rata 20 ekor per tahun dari tahun 2008 sampai 2014, dan hanya menangkap 3 ekor pada 2015.

Sayangnya, pemerintah Indonesia belum memiliki posisi formal (menyetujui atau menolak) seputar tradisi tersebut.The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Rano karno Buka Jakarta Financial Festival Blok M Square

28 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Rano karno Buka Jakarta Fin...

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

41 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

42 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
Daerah
Mau Tahu Alasan Dedi Mulyad...
Ekonomi
GoPay Permudah Masyarakat I...
Megapolitan
Waoooww….Warga Bandung ak...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.