Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tembok Hijau Besar, Upaya Tiongkok Menekan Perluasan Gurun Gobi dan Taklamakan

📅 Senin, 15 Des 2025, 05:47 WIB | Oleh:
Tembok Hijau Besar, Upaya Tiongkok Menekan Perluasan Gurun Gobi dan Taklamakan Doc: Pedro PARDO / AFP
Ket. Pemandangan udara kontras antara zona hijau dan lanskap gurun Kubuqi, di Ordos, wilayah Mongolia Dalam utara Tiongkok. Kampanye “Tembok Hijau Besar” Tiongkok awalnya bertujuan untuk membendung perluasan gurun di utara yang kering akibat pertanian intensif, penggembalaan, pertambangan, dan perubahan iklim.

SEJAK 1978, Tiongkok telah menanam lebih dari 66 miliar pohon di sepanjang perbatasan utaranya yang sepanjang 2.800 mil, dan ingin menanam 34 miliar pohon lagi selama 25 tahun ke depan untuk menyelesaikan “Tembok Hijau Besar”-nya.

“Tembok Hijau Besar” Tiong­kok adalah proyek re­kayasa ekologi besar-besaran untuk memperlambat perluasan gurun Gobi dan Taklamakan di utara negara itu. Gurun Gobi terdiri dari beberapa kawasan geografis serta ekologis yang unik, didasarkan pada perbedaan iklim dan topografi. Gurun ini merupakan yang terbesar di Asia.

Sementara Taklamakan menempati Cekungan Tarim dan dikelilingi deretan pegunungan megah seperti Kunlun di selatan, Pamir di barat, dan Tian Shan di utara. Luasnya mencapai 320.000–480.000 km persegi, membuatnya menjadi salah satu gurun terbesar di Asia.

Sejak 1978, Tiongkok telah menanam lebih dari 66 miliar pohon di sepanjang perbatasannya dengan Mongolia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan. Otoritas negeri itu berencana untuk menanam 34 miliar pohon lagi selama 25 tahun ke depan.

Jika proyek ini berhasil, Tembok Hijau Besar akan meningkatkan tutupan hutan Bumi sebesar 10 persen sejak akhir tahun 1970-an. Tembok Hijau Besar, yang secara resmi dikenal sebagai Program Hutan Lindung Tiga Utara.

Proyek tersebut dirancang untuk memperlambat erosi tanah dan pengendapan pasir yang telah meningkat sejak tahun 1950-an. Beberapa faktor penyebabnya adalah urbanisasi besar-besaran dan perluasan lahan pertanian di wilayah itu.

Perubahan ini memperburuk kondisi kering di wilayah tersebut, yang pada gilirannya menciptakan kondisi untuk lebih banyak badai pasir. Badai pasir menerbangkan lapisan atas tanah dan mengendapkan pasir, merusak lahan dan meningkatkan polusi partikulat di kota-kota.

Tiongkok Utara kering sebelum ledakan urbanisasi tahun 1950-an, karena Himalaya di selatannya menciptakan bayangan hujan di perbatasan negara dengan Mongolia yang membatasi curah hujan di wilayah tersebut. Inilah sebabnya mengapa gurun Gobi dan Taklamakan begitu luas.

Jika Gurun Hobo dan Taklamakan digabungkan, kedua­nya mencakup  luas mencapai 618.000 mil persegi atau 1,6 juta kilometer persegi. Luas ini sedikit lebih kecil dari Alaska, menurut laporan Royal Geographical Society.

Terlepas dari upaya Tiongkok selama lima dekade terakhir, Gobi dan Taklamakan masih terus meluas. Gurun Gobi, misalnya, menelan sekitar 1.400 mil persegi (3.600 kilometer persegi) padang rumput Tiongkok setiap tahunnya. Penggurunan ini merusak ekosistem dan lahan pertanian, tetapi juga memperburuk polusi di kota-kota seperti Beijing.

Tahun lalu, perwakilan pemerintah mengumumkan bahwa Tiongkok telah menyelesaikan penanaman vegetasi di sekitar Taklamakan, yang telah membantu menstabilkan bukit pasir dan meningkatkan tutupan hutan dari sekitar 10 persen wilayah Tiongkok pada tahun 1949 menjadi lebih dari 25 persen saat ini. Penanaman pohon akan terus dilakukan di sekitar Taklamakan untuk memelihara dan memperluas hutan, kata para perwakilan tersebut.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Tembok Hijau Besar akan memiliki panjang 2.800 mil (4.500 kilometer) pada tahun 2050. “Tembok” ini adalah hutan yang ditanami benih terbesar di dunia, tetapi masih belum jelas seberapa efektifnya dalam memperlambat penggurunan.

Meskipun beberapa penelitian menunjukkan bahwa Tembok Hijau Besar telah mengurangi frekuensi badai pasir, yang lain berpendapat bahwa penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh faktor iklim. Para kritikus mengatakan tingkat kelangsungan hidup pohon dan semak yang ditanam terlalu rendah untuk menunjukkan hasil yang kuat.

Tanaman Monokultur

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.