Agar Biodiesel Indonesia Lebih Ramah Lingkungan, Begini Langkahnya
📅 Kamis, 09 Mar 2023, 15:05 WIB | Oleh: Tim Penulis2. Perkebunan berkelanjutan perlu diterapkan
Budi daya sawit pada umumnya dilakukan dengan sistem monokultur. Artinya, hanya ada tanaman sawit dalam satu kawasan perkebunan.
Praktik tersebut perlu ditinggalkan karena selain boros lahan, praktik monokultur ini juga membahayakan lingkungan.
Supaya lebih berkelanjutan, pemerintah dapat menggencarkan kampanye praktik agroforestri dalam perkebunan sawit. Dalam agroforestri, pekebun tak hanya menanam sawit, tapi juga tanaman hutan seperti jengkol, jelutung, ataupun durian yang dianggap bermanfaat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Agroforestri bermanfaat untuk mengurangi bahaya lingkungan karena bisa meningkatkan keanekaragaman hayati, mengurangi erosi tanah, dan memberikan pendapatan tambahan bagi petani.
Pemerintah perlu melengkapi kampanye tersebut dengan edukasi praktik perkebunan ramah lingkungan, misalnya pemakaian pupuk organik. Pekebun dapat memakai metode agroekologi, pemanfaatan material yang ada dalam lingkungan tersebut sekitar dalam praktik perkebunan. Contohnya adalah pengomposan untuk membuat pupuk organik dari cangkang, daun, ataupun batang sawit secara langsung di kebun mereka.
3. Perbanyak alternatif minyak sawit
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak dilaksanakan pada 2015, Indonesia tak pernah beranjak untuk memakai bahan bakar nabati selain dari sawit. Situasi ini mesti berubah.
Tanpa pencarian bahan pengganti, kebijakan biodiesel Indonesia akan rawan mengganggu ketahanan pangan karena konsumsi minyak goreng sawit terus meningkat.
Pemerintah harus memulai pemanfaatan bahan baku potensial lainnya seperti minyak jelantah untuk mengurangi ketergantungan terhadap sawit sekaligus meredam limbah rumah tangga.
Kajian dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) bersama Traction Energy Asia mengungkapkan, masyarakat Indonesia menghasilkan sekitar 6,46 - 9,72 juta kiloliter minyak jelantah setiap tahun. Jumlah ini sangat banyak, setara dengan 47 - 72% kemampuan produksi bahan bakar nabati Indonesia pada 2022.
Pemerintah daerah perlu membentuk sistem pengelolaan minyak goreng bekas dan pemanfaatannya untuk biodiesel bekerja sama dengan pihak swasta, badan usaha milik negara atau daerah, maupun akademikus.![]()
Ahmad Munawir Siregar, Staff Peneliti, The Purnomo Yusgiantoro Center dan Vivi Fitriyanti, Assistant Researcher, The Purnomo Yusgiantoro Center
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!