Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Satu Tahun Invasi, Rusia Tak Berhenti Menyerang, Ukraina Tak Berhenti Bertahan

📅 Minggu, 26 Feb 2023, 14:14 WIB | Oleh: Tim Penulis
Satu Tahun Invasi, Rusia Tak Berhenti Menyerang, Ukraina Tak Berhenti Bertahan Doc: The Conversation/Freepik
Ket. Kota di Ukraina yang hancur akibat perang dengan Rusia.

Radityo Dharmaputra, Universitas Airlangga

Tepat satu tahun sudah konflik senjata antara Rusia dan Ukraina berlangsung. Ribuan warga sipil, termasuk anak-anak, meninggal dunia dan terluka akibat invasi Rusia ke Ukraina tersebut.

Perang juga telah menyebabkan krisis kemanusiaan, krisis energi yang menyebabkan sulitnya akses air bersih dan listrik, dan pembunuhan massal di banyak kota di Ukraina.

Dalam pidato tahunannya di Moskow pada 21 Februari 2023, di hadapan parlemen (Federal Assembly) dan perwakilan militer Rusia, Presiden Rusia Vladimir Putin justru semakin menunjukkan niatannya mengeskalasi konflik. Ia menegaskan kembali bahwa wilayah Ukraina secara historis adalah bagian dari teritori Rusia, disertai pernyataan bahwa Rusia menunda keikutsertaannya dalam perjanjian kontrol nuklir dengan Amerika Serikat (AS).

Di saat yang sama, Presiden AS, Joe Biden, mengunjungi Kyiv untuk bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, guna menekankan bahwa AS mendukung penuh kedaulatan Ukraina.

Prospek perdamaian di antara keduanya tampak masih cukup jauh dari harapan.

Banyak pihak mendesak Rusia dan Ukraina untuk segera menghentikan konflik, serta agar pihak ketiga seperti AS tidak memberikan bantuan senjata, terutama bagi Ukraina, karena akan memperkeruh konflik.

Padahal tidak semudah itu. Jika kita memahami penyebab dan konteks sejarah invasi Rusia ke Ukraina serta perkembangan situasi domestik masing-masing negara, kita akan bisa melihat mengapa keduanya sama-sama tidak akan mudah berhenti berperang, paling tidak selama satu tahun ke depan.

Rusia Tidak Mungkin Berhenti Menginvasi

Sejak awal, invasi ini memang bukan disebabkan oleh kompetisi Rusia dengan Barat. Konflik ini juga bukan karena Putin merasa terancam oleh potensi perluasan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dengan langkah Ukraina yang mendaftar jadi anggota aliansi militer terbesar di Eropa tersebut.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita pahami mengenai konteks sejarah hubungan Rusia dengan negara-negara bekas Uni Soviet.

1. Rusia masih meyakini bahwa Ukraina adalah wilayahnya

Rusia, sebagaimana yang Putin katakan berulang kali, menganggap bahwa Ukraina adalah bagian historis dari wilayah Rusia. Oleh karenanya, Ukraina harus menjadi area di bawah pengaruh dan kekuasaan Rusia.

Untuk itu, apapun yang NATO maupun Ukraina lakukan untuk mengurangi tensi di kawasan tersebut tidak akan diterima oleh Rusia, selama hal itu masih mengurangi pengaruh Rusia di kawasan Eropa Timur.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Olahraga
Marquez Rebut Sprint MotoGP...
Advertisement
Cuaca Buruk, Kapal Virgo Transport Membawa 243 Orang Hilang Kontak di Laut Jawa

Cuaca Buruk, Kapal Virgo Transport Membawa 243 Orang Hilang Kontak di Laut Jawa

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.