Satu Tahun Invasi, Rusia Tak Berhenti Menyerang, Ukraina Tak Berhenti Bertahan
📅 Minggu, 26 Feb 2023, 14:14 WIB | Oleh: Tim PenulisRusia hanya ingin mempertahankan kontrol mereka terhadap wilayah yang menjadi hak kuasa mereka dan tidak akan berhenti sebelum ada kepastian bahwa kekuasaan ini tetap terjaga.
2. Reputasi Putin dipertaruhkan
Kita juga perlu mencatat kondisi domestik Rusia sebelum melakukan invasi ini.
Demonstrasi besar pada akhir tahun 2021 oleh para pendukung pemimpin oposisi Alexey Navalny, telah mengindikasikan mulai turunnya popularitas Putin dan tidak stabilnya rezim pemerintahannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengalihan isu domestik dengan cara menyerang Ukraina sudah menjadi pola umum kebijakan Rusia.
Pada 2013-2014, untuk mengalihkan isu yang bisa mengganggu reputasinya dan menguatkan rezim, Putin memulai invasi ke wilayah Ukraina. Namun, saat itu invasinya dilakukan secara selektif di Krimea dan secara tersembunyi di Donbas. Kemudian tahun 2022, invasi dilakukan secara masif di hampir seluruh wilayah Ukraina.
Pencaplokan wilayah Ukraina oleh Rusia, baik pada 2014 maupun 2022, telah membuat popularitas Putin langsung meningkat di dalam negeri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Maka dari itu, tidak ada keuntungan bagi Putin untuk berhenti menyerang.
Sebaliknya, jika menghentikan invasi, artinya Rusia mengakui kekalahannya melawan negara yang jauh lebih kecil. Ini akan menjatuhkan, bahkan menghilangkan, reputasi Putin sebagai pemimpin besar yang kuat. Dan jika ini terjadi, akan ada konflik internal di antara elit politik Rusia, apalagi menjelang pemilihan umum (pemilu) Rusia pada tahun 2024.
3. Pantang mundur karena sudah habiskan modal besar
Ketidakmampuan Rusia menaklukkan seluruh wilayah Ukraina dalam waktu singkat tidak serta merta membuat Putin mengerahkan seluruh tentara Rusia dan memobilisasi massal warga sipil. Ia tetap bersikukuh memakai istilah "operasi militer khusus" dan mobilisasi parsial. Dengan begitu, Putin masih bisa meyakinkan rakyatnya bahwa invasi ini bukan perang terbuka.
Putin melakukannya karena memahami bahwa masyarakat Rusia masih cukup trauma dengan Perang Dunia II. Mobilisasi parsial saja sudah menimbulkan gejolak penolakan dan membuat sejumlah besar warga Rusia pergi ke luar negeri.
Resistensi yang mulai muncul di dalam negeri kemudian direspons dengan represi yang begitu keras oleh pemerintah, termasuk membredel media-media independen dan melarang penggunaan istilah "perang".
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!