Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Terlanjur Cinta, Penyebab Korban Kekerasan Terjebak dalam Hubungan Toksik

📅 Kamis, 16 Feb 2023, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Terlanjur Cinta, Penyebab Korban Kekerasan Terjebak dalam Hubungan Toksik Doc: Unsplash/Eric Ward
Ket. Ilustrasi hubungan toksik.

Cantyo Atindriyo Dannisworo, Universitas Indonesia

Banyak pasangan merayakan Hari Valentine sebagai hari penuh cinta dan romansa. Pada kenyataannya, menjalin hubungan tak selalu tentang masa-masa indah saja. Satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual di dalam hubungan. Jumlah ini belum termasuk kekerasan emosional, verbal, dan psikologis.

Di ruang digital, misalnya, Komnas Perempuan mencatat kenaikan angka kekerasan berbasis gender online (KBGO), dari 97 kasus pada tahun 2018 menjadi 855 kasus pada 2021. KBGO melingkupi pelecehan secara digital, pemerasan dengan konten seksual (sextortion), hingga kontrol digital oleh pasangan hingga menyebabkan rasa tertekan.

Meski demikian, literatur menunjukkan bahwa banyak orang tetap mau bertahan dalam hubungan kekerasan yang jelas merugikan mereka. Mengapa?

Dalam penelitian yang saya dan beberapa kolega lakukan pada tahun 2022, kami menemukan bahwa perempuan dewasa muda yang menjadi korban KBGO justru bisa semakin berinvestasi dan berkomitmen dalam hubungan toksik, hingga "terlanjur cinta" untuk keluar dari hubungan tersebut. Hal ini bisa diprediksi lewat beberapa hal.

"The Investment Model" yang diusung oleh Caryl Rusbult, profesor psikologi Vrije Universiteit di Belanda, misalnya, menjelaskan bahwa orang memiliki komitmen untuk bertahan dalam hubungan karena tiga faktor: (1) kepuasan terhadap hubungan, (2) investasi baik secara waktu, emosi, ataupun finansial, dan (3) kualitas hubungan lain di luar pasangannya - misalnya keluarga, teman, atau potensi hubungan lain di masa depan.

Ini berarti semakin puas seseorang di dalam hubungan, semakin besar investasinya, dan semakin rendah kualitas alternatif hubungannya, maka semakin tinggi komitmen seseorang untuk bertahan di dalam hubungan. Tapi bagaimana dinamika ini berlaku dalam hubungan kekerasan?

Investasi, Kepuasan, dan Komitmen dalam Hubungan Berkekerasan

Penelitian kami melibatkan 86 perempuan heteroseksual berusia 18-24 tahun di Indonesia, yang sebelumnya telah kami saring dengan skor ≥5 dalam setidaknya salah satu item instrumen Cyber Dating Abuse Questionnaire (mengalami setidaknya sepuluh insiden kekerasan dalam setahun terakhir).

Dalam riset, kami menemukan bahwa dalam hubungan berkekerasan, individu yang menjadi korban justru akan berusaha lebih keras untuk "memperbaiki" hubungannya. Karena merasa sudah terlanjur berinvestasi banyak secara emosi, waktu, dan finansial, mereka mengeluarkan tambahan energi - jauh lebih banyak ketimbang pasangan yang "sehat" - untuk memperjuangkan agar hubungan mereka dapat terus berlangsung.

Secara paradoks, hal ini pula lah yang semakin meningkatkan investasi mereka di dalam hubungan berkekerasan tersebut. Sehingga, berdasarkan the investment model, komitmennya terhadap hubungan akan meningkat.

Menariknya, individu-individu ini juga melaporkan kepuasan di dalam hubungan yang relatif tinggi. Padahal, studi sebelumnya menunjukkan individu yang berada dalam hubungan berkekerasan memiliki kepuasan hubungan yang rendah. Tingginya tingkat kepuasan ini mungkin terjadi karena individu merasa bahwa perilaku kekerasan yang mereka alami - terutama kontrol dan pemantauan yang dilakukan pasangannya - seolah merupakan hal yang normal.

Bisa jadi, akibat paparan kekerasan yang terjadi berulang kali dan "dinormalisasi" dalam hubungan tersebut, korban menganggap perilaku pasangan mereka sebagai bentuk cinta, perhatian, atensi, dan kasih sayang.

Studi tahun 2015 dari tim peneliti psikologi Spanyol, misalnya, berargumen bahwa banyak pasangan dalam hubungan berkekerasan, terutama pasangan muda, memegang mitos terkait kasih sayang yang terdistorsi dan tidak realistis yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan timbulnya perilaku agresif. Obsesi, amarah, dan tindakan mengontrol seperti senantiasa menuntut lokasi atau jadwal kegiatan pasangan, misalnya, dimaknai sebagai bentuk kasih sayang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Qatar Dorong Negara Teluk H...
Daerah
Harga Cabai di Mataram Turu...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.