Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Filsafat Satyagraha Lahir dari Ketidakadilan Undang-Undang di Afrika Selatan

📅 Rabu, 04 Jan 2023, 00:00 WIB | Oleh:

Gandhi menganggap rancangan peraturan tersebut tidak dapat diterima dan segera mengirimkan permintaan kepada pemerintah untuk mencabut Undang-undang Amandemen Hukum Asiatis yang diusulkan ini, yang disebut Undang-Undang Kulit Hitam oleh orang India. Dia kemudian memanggil orang-orang India untuk berkonsultasi, yang terjadi pada 11 September 1906 di Empire Theatre di Johannesburg.

Di sana berkumpul orang India dan sekelompok orang Tiongkok, yang terkena peraturan tersebut. Setelah beberapa pembicara, lahirlah empat resolusi disampaikan kepada mereka yang hadir. Tentu saja ada tuntutan agar UU Kulit Hitam yang diusulkan dicabut. Namun, resolusi yang paling penting adalah yang menyatakan bahwa jika aturan diterapkan, maka tidak akan dipatuhi.

Mereka secara konsisten menolak untuk mengisi formulir pendaftaran dan memberikan sidik jari. Diusulkan juga bahwa semua konsekuensi penolakan dan kemungkinan sanksi harus ditanggung secara pasif dan tanpa kekerasan.

Karena pentingnya perlawanan ini, alih-alih suara mayoritas, setiap orang yang hadir sekarang secara pribadi diminta untuk bersumpah bahwa UU Kulit Hitam tidak akan diakui. Sebelum mengambil sumpah, Gandhi menjelaskan secara rinci konsekuensi hukum yang akan diterima dan meminta semua yang hadir untuk mempertimbangkan sendiri apakah mereka akan mampu menanggungnya.

Ia mencontohkan segala konsekuensinya seperti denda, deportasi, penjara bahkan dengan resiko kematian, kerja paksa atau penyitaan tanah. Protes itu dimulai sebagai protes sosial-politik, tetapi kemudian juga mengambil dimensi spiritual.

Ketika momen pengambilan sumpah tiba, sesuatu yang luar biasa terjadi. Salah satu pemimpin gerakan tidak hanya mengambil sumpah, tetapi dia bahkan dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa dia akan melakukannya atas nama Tuhan dan menasihati semua yang hadir untuk melakukan hal yang sama.

Gandhi sepertinya segera menyadari pentingnya sumpah atas nama Tuhan ini. Dalam laporannya, ia menulis bahwa resolusi-resolusi tahun-tahun sebelumnya sering disusun dan kemudian diterima dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak pernah dengan tambahan atas nama Tuhan.

Itulah sebabnya dia menekankan dalam pidatonya bahwa sumpah yang dibuat atas nama Tuhan yang berarti tanggung jawab tambahan bagi setiap orang untuk menepati sumpah yang telah mereka buat. Dengan membuat setiap individu mengambil sumpah dengan cara ini, itu tidak hanya menjadi protes massa, tetapi juga protes individu.

Dan ada perubahan besar lainnya. Protes itu dimulai sebagai protes sosio-politik untuk persamaan hak, tetapi sekarang juga mengambil dimensi spiritual. Setelah beberapa kali pidato, semua yang hadir bersumpah atas nama Tuhan dengan tangan terangkat, untuk tidak mengakui UU Kulit Hitam.

Gerakan perlawanan pasif itu pada tahun 1908 disebut dengan Satyagraha. Kata Sansekerta satya berarti 'kebenaran' dan agraha 'ketabahan.' Secara harfiah, Satyagraha berarti berpegang teguh pada kebenaran. hay/I-1

Pembangkangan Tanpa Kekerasan

Protes terhadap Undang-Undang Hitam (Black Act) melahirkan gerakan gerakan pembangkangan sipil. Dalam pandangan Mohandas KaramchandGandhi, kebenaran identik dengan "diri," "ilahi" yang tersembunyi dalam diri manusia. Menurut dia, kebenaran tersirat "cinta." Gandhi melihat kebenaran, cinta, sebagai kekuatan batin dalam diri manusia, dan tanpa kekerasan sebagai sarana untuk mengalami dan mengaktifkan kekuatan ini.

Seperti yang dia tulis, "Satyagraha, yaitu kekuatan yang lahir dari kebenaran dan cinta kasih atau tanpa kekerasan". Baginya kebenaran, cinta dan tanpa kekerasan adalah identik.Satyagraha menjadi metode praktis untuk menyelesaikan konflik melalui jalur non-kekerasan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Warga Gagalkan Aksi Dua Pen...

Kerukunan dan Kebebasan Beribadah Patut Disyukuri

14 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Kerukunan dan Kebebasan Ber...

Siswa Bermasalah Tak Layak Menerima Bantuan Biaya Sekolah

23 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Siswa Bermasalah Tak Layak ...

Haree Gini Masih Buang Sampah Sembarangan…Bakal Masuk Bui

28 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Haree Gini Masih Buang Samp...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.