Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kenaikan Suku Bunga Mulai Tekan Kurs di 'Emerging Market'

📅 Rabu, 21 Sep 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Analis Makroekonomi Bank Danamon, Irman Faiz, memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bp) seiring adanya sinyal hawkish dari bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed).

Dia memperkirakan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7 days RR Rate) akan naik dari 3,75 persen menjadi 4 persen.

"Kami sejauh ini melihat, BI akan kembali menaikkan suku bunga dengan besaran 25 bps ke 4 persen," kata Irman.

Pakar Ekonomi dari Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Surabaya, Leo Herlambang, mengatakan rupiah dan perekonomian Indonesia akan terdampak kebijakan suku bunga tinggi, namun tidak sedalam negara-negara lain.

"Jelas, kita akan ikut terpukul kenaikan suku bunga tinggi global, tapi tidak akan separah negara-negara lain. Karena indikator perekonomian utama sebuah negara adalah indeks harga saham, baru setelah itu nilai tukar, suku bunga, dan inflasi. Kalau melihat data terakhir per 16 September, IHSG kita masih yang teratas di kawasan, masih positif di atas Singapura, yang lain seperti Jepang, Tiongkok, negatif," kata Leo.

Pakar Ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Yohanes B Suhartoko, mengatakan jika suku bunga global naik yang dipicu kebijakan moneter kontraktif untuk meredam inflasi, akan menciptakan potensi capital outflow dari negara uang imbal hasil riil surat berharganya rendah. "Ancaman berikutnya adalah depresiasi mata uang negara tersebut," kata Suhartoko.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan jika suku bunga naik, akan diikuti kenaikan tingkat suku bunga kredit. "Khawatirnya sektor usaha yang punya kredit terdampak," katanya.

Direktur Centre of Reform on Economics, Mohammad Faisal, mengatakan dorongan tingkat suku bunga tinggi The Fed pasti mendorong otoritas moneter di berbagai negara termasuk Indonesia untuk melakukan penyesuaian. "Kasus Indonesia di mana BI tidak terlalu mengikuti kebijakan hawkish The Fed sulit dipertahankan karena kondisi dalam negeri hari ini berbeda, yakni adanya kenaikan harga BBM.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Perkuat Dukungan bagi Atlet...
Megapolitan
Namanya Penjahat Tak Tahu T...
Daerah
Jaga Stabilitas Harga, Pemp...
Daerah
Pemerintah Provinsi Papua H...
Advertisement
Ada Demo Mahasiswa di DPR, Polisi Siagakan 3.983 Personel Gabungan

Ada Demo Mahasiswa di DPR, Polisi Siagakan 3.983 Personel Gabungan

05 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.