Kenaikan Suku Bunga Mulai Tekan Kurs di 'Emerging Market'
📅 Rabu, 21 Sep 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
» Tekanan rupiah masih berlanjut karena The Fed terus mendorong kebijakan pengetatan moneter yang agresif.
» Setelah capital inflow akan diikuti depresiasi mata uang negara emerging market.
JAKARTA - Lonjakan inflasi global telah memaksa bank-bank sentral dunia berlomba menaikkan suku bunga acuan mereka agar tidak terjadi pelarian modal (capital outflow). Bank sentral Swedia, Riksbank, misalnya menaikkan suku bunga acuannnya sebesar 100 basis poin menjadi 1,75 persen pada Selasa (20/9).
Kebijakan itu sebagai langkah mengejutkan dan memperingatkan bahwa lebih banyak lagi otoritas moneter yang akan datang karena berusaha mengatasi lonjakan inflasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kenaikan tersebut adalah yang terbesar sejak November 1992, ketika Riksbank juga menaikkan suku bunga utamanya sebesar 100 basis poin. "Inflasi naik lebih tinggi dari perkiraan Riksbank sebelumnya pada Juni, dan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut selama tahun ini," kata Riksbank dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Antara.
Mereka memperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan dalam enam bulan mendatang. Kenaikan akan berlanjut, meskipun perkiraan ekonomi menuju penurunan tajam bahkan mungkin menuju resesi.
Dalam survei Financial Times baru-baru ini menunjukkan mayoritas ekonom terkemuka memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed akan menaikkan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) di atas 4 persen. Level tersebut akan dipertahankan setelah 2023 sebagai upaya untuk melawan inflasi yang tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah menaikkan suku bunga tahun ini pada laju tercepat sejak 1981 dan diperkirakan akan menerapkan kenaikan suku bunga 0,75 poin persentase ketiga berturut-turut pada Rabu ke level 3 hingga 3,25 persen.
Hampir 70 persen dari 44 ekonom yang disurvei antara 13 dan 15 September percaya bahwa tingkat FFR dari siklus pengetatan kali ini akan mencapai puncaknya di kisaran 4-5 persen, sedangkan 20 persen berpendapat akan melampaui level tersebut.
Nilai tukar (kurs) rupiah sendiri di pasar uang antarbank pada Selasa (20/9) pagi melemah, dibayangi pengetatan moneter agresif dari The Fed.
"Tekanan rupiah masih karena antisipasi pasar terhadap kemungkinan bank sentral AS yang akan terus mendorong kebijakan pengetatan moneter yang agresif untuk menekan inflasi AS ke level target 2 persen," kata pengamat pasar uang, Ariston Tjendra.
The Fed diproyeksikan akan menaikkan suku bunga 75 basis poin dengan beberapa peluang kenaikan 100 basis poin. Prospek kenaikan suku bunga oleh The Fed menguat seiring rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari estimasi.
Sinyal Hawkish
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!