Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kelebihan Pasok, Muncul Fenomena 'Apartemen Hantu'

📅 Senin, 20 Des 2021, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kelebihan Pasok, Muncul Fenomena 'Apartemen Hantu' Doc: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA

» Kredit properti yang spekulatif seperti apartemen ini menjamur, mal menjamur. Sementara pertanian susah dapat kredit.

» Pemerintah dan perbankan nasional hendaknya lebih kreatif menumbuhkan ekonomi di daerah.

JAKARTA - Pasar apartemen kelebihan pasokan. Ratusan ribu unit hunian vertikal tersebut tidak berpenghuni alias kosong dan memunculkan istilah "apartemen hantu". Fenomena ini terjadi dihampir semua kota besar di Indonesia.

Pada 2020 misalnya, tingkat permintaan apartemen turun drastis. Sebut saja Jakarta turun 42,7 persen, Surabaya turun 32 persen, Bandung 90 persen, Medan turun 100 persen, Semarang turun 100 persen, Batam 100 persen, Makassar 19 persen, Balikpapan stagnan, Bali turun 100 persen, sementara Palembang stagnan.

Konsultan properti, Coldwell Banker Commercial, dalam risetnya menyebutkan tingkat permintaan apartemen sudah mulai melambat sejak kuartal kedua 2020. Ini terutama di kota-kota besar.

"Permintaan hanya terserap dari transaksi penjualan beberapa proyek apartemen di Surabaya, Bandung, dan Makassar. Sementara tidak ada permintaan lain yang terserap di pasar utama pada kota besar lainnya," tulis Angra Angreni, Manager Research & Colsultancy Coldwell Banker Commercial, seperti dikutip CNBC.

Menurut data yang disajikan oleh konsultan ini, kota yang masih mengalami kenaikan sales hanya beberapa, yakni Surabaya 0,4 persen, Bandung 0,1 persen, dan Makassar 0,4 persen, sisanya 0 persen.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, mengatakan kehancuran pasar apartemen sebenarnya sudah berjalan lama, sebelum pandemi. Dan sudah banyak pihak yang mengingatkan jauh-jauh hari, sayangnya tidak ada langkah yang tepat dari pemegang otoritas keuangan untuk mengantisipasinya.

"Meski otoritas terus menolak adanya kenyataan bubble properti di Jakarta, tapi fakta hari ini membuktikan ada bubble dan pengalaman bubble properti Tiongkok musti jadi pelajaran penting," kata Maruf kepada Koran Jakarta, Minggu (19/12).

Sudah Diingatkan

Maruf mengatakan ekonom sudah mengingatkan sejak lama otoritas keuangan seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mesti melihat lebih cermat portofolio kredit yang selama ini timpang antara kelas atas dan menengah bawah terutama besarnya kredit yang dikucurkan untuk superblock perumahan mewah, apartemen, mal, dan sebagainya. Sementara kebutuhan rumah pertama di kalangan menengah bawah justru sangat kurang support-nya.

"Dari dulu otoritas, baik OJK dan pemerintah, menolak kenyataan potensi bubble di pasar properti mewah Jakarta. Padahal rentetan dari kebijakan pengucuran kredit ke properti mewah Jakarta itu banyak sekali, salah satunya ya seperti hari ini, apalagi kalau melihat dampak panjang ekonomi yang tumbuh dari logika properti mewah itu," papar Maruf.

Dengan terus berpihak pada ekonomi properti mewah, menurut Maruf, ekonomi akan berjalan di atas konsumsi. Putaran ekonomi di mal dan superblock Jakarta hanyalah ekonomi konsumsi yang multiplyer effect-nya kecil.

Bayangkan misalnya, Maruf melanjutkan, jika portofolio kredit perbankan bisa sejalan dengan visi pemerintah dalam menciptakan kemandirian ekonomi dalam negeri maka kredit akan mengalir ke sektor produktif yang melibatkan rakyat banyak dan multiplier effect-nya akan sangat besar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.