Melatih Mahasiswa Menaklukkan Dunia Nyata
📅 Sabtu, 20 Nov 2021, 07:20 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rupBagaimana kaitan langsung kebijakan tersebut dengan kesiapan lulusan di pasar kerja? Ini mengingat adanya perbedaan karakteristik untuk para generasi milenial.
Kebijakan tersebut tentu harus diikuti dengan kurikulum link and match. Kurikulum bersesuaian dengan pekerjaan yang diterima. Kurikulum kedokteran dan keguruan bisa dikatakan sebagai role model link and match. Tapi kalau kita lihat di fakultas-fakultas tertentu, kariernya tidak bersesuai dengan materi-materi S1. Dengan MBKM, akan mampu dan mendewasakan mahasiswa untuk menjadi pemain-pemain baru yang disiapkan berkompetisi dalam ketenagakerjaan.
Konsep ini kalau diimplementasikan dengan baik memungkinkan sarjana atau vokasi memilih banyak pekerjaan. Di zaman saya dulu, lulus S1 jenjang karier yang dipilih menjadi PNS. Sekarang milenial ada tren belum tentu jadi PNS. Bahkan, jadi pengusaha-pengusaha yang tidak berlabel atau ruang cukup luas, tapi memiliki income lumayan. Sebab ada pembekalan-pembekalan dan perkembangan-perkembangan pemahaman, utamanya didukung teknologi informasi. Dengan begitu bisa memberdayakan lebih banyak orang juga.
Bagaimana kiprah milenial ini persisnya?
Sebaiknya Anda baca juga:
Cukup banyak kaum milenial ini tidak betah sebab mereka ingin tantangan-tantangan baru dan kondisi baru. Beda dengan PNS, meski tetap jadi rebutan tenaga kerja. Tapi, kalau kita melihat bagaimana setelah lulus, kementerian memiliki tiga parameter. Pertama, keberlanjutan studi dari lulusan, mendapat pekerjaan yang ketat, lulusan mendapatkan pekerjaan sendiri, atau wirausaha dengan gaji UMR.
Kalau sudah begini, tidak lagi berduyun-berduyun mencari kerja. Sebab, mereka bisa bekerja sendiri. Saya rasa dengan Covid-19 yang mempunyai perubahan-perubahan mindset dalam bekerja bisa mempercepat pemahaman tentang bekerja. Ada kebiasaan-kebiasaan baru dalam bekerja, contoh tidak pergi ke mana-mana, tapi pekerjaan tetap selesai.
Apakah memungkinkan mahasiswa terlibat dalam pengembangan kurikulum perguruan tinggi?
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal tersebut jadi penekanan Presiden Joko Widodo. Jadi, buat pilihan-pilihan mata kuliah yang lebih banyak. Pilihan ini variatif bisa saja diajukan mahasiswa lebih mengetahui dunia luar.
Dalam konteks ini, dinamisator dari kurikulum harus terjaga. Kurikulum tidak boleh dikeramatkan. Kurikulum harus banyak-banyak disempurnakan. Jadi, mari bersama-sama menyempurnakan kurikulum dengan dosen, alumni, DUDI, dan masyarakat dilibatkan dalam penyusunan-penyusunan terkait kebutuhan di masa mendatang.
Di sisi lain, masih ada prodi-prodi yang bisa dibilang tidak relevan atau "zadul". Bagaimana Bapak melihat keberlangsungan prodi-prodi tersebut?
Prodi zadul itu tidak menapikan sudah cukup lama. Tampaknya, prodi zadul masih banyak. Meski begitu, prodi belum menjawab tantangan zaman, bukan berarti prodi dimatikan. Di era perubahan yang cepat ini, kampus-kampus kalau mengajukan prodi baru yang mutakhir harus menjawab tantangan zaman. Prodi yang 5-10 tahun itu bisa diantisipasi sebagai prodi yang menjawab tantangan zaman. Tapi, kita harap prodi baru bisa sesuai dengan era disrupsi dan revolusi industri 4.0.
Selain perkuliahan, perguruan tinggi juga identik dengan kegiatan riset. Menurut Bapak, bagaimana kondisi riset perguruan tinggi?
Riset dan penelitian merupakan aktivitas keempat MBKM. Kita harapkan riset-riset dari perguruan tinggi yang dilakukan para mahasiswa bisa digunakan sebagai upaya meningkatkan kepedulian kampus terhadap DUDI. Jadi, riset-riset tidak sekadar diperlukan untuk pelaporan saja. Riset bisa digunakan untuk meningkatkan kebijakan, bahkan dihilirisasi. Dalam ekosistem riset baru ada penyatuan kelembagaan untuk riset perguruan tinggi. Sekarang sudah jadi satu. Ini memudahkan pembinaan, pertanggungjawaban, dan lain-lain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!