Menyibak Misteri di Pulau Alor
📅 Selasa, 06 Agu 2019, 01:00 WIB | Oleh: Eko SMedio 1959 di Alor, menurut Nur Agustinus, sebenarnya tidak berdiri sendiri. Sebab, pada 1959 juga dapat dijumpai catatan penyaksian UFO di wilayah Papua Nugini.
"Bedanya, kalau di Alor, Aliennya sampai keluar dari UFO bahkan menculik seorang bocah. Kalau di Papua Nugini cuma nampak UFO yang berbentuk telur lonjong saja," kata Nur.
Tulisan Salatun mengungkap sangat detil struktur tubuh alien Pulau Alor. Ia mirip manusia biasa dengan roman muka berwarna merah, rambut serta jenggot berwarna perak dan bagian belakang kepalanya lancip ke atas entah karena sisiran rambut atau karena leher bajunya. Mereka kebal peluru, bisa jalan melayang dan dapat melompat seperti jago kungfu. Makhluk UFO ini juga dapat membuat dirinya tidak kasat mata.
Nur menjelaskan, investigasi insiden Pulau Alor yang dilakukan J Salatun dengan rekam jejak sebagai mantan Karo Penerangan Mabes AU pertama pada 1951-1957, merintis peroketan dan pendiri LAPAN, tidak bisa diremehkan begitu saja. Memang, kasus 1959 itu baru diceritakan kembali Alwi Anadad kepada Salatun, 17 tahun setelah peristiwa.
"Namun sulit untuk menerima kalau itu hanya karangan Alwi. Lebih masuk akal, itu peristiwa yang diingat betul namun saat peristiwa terjadi akses pada media dan ke pemerintah pusat, dalam hal ini J Salatun, tidak ada," jelas Nur. YK/R-1
Klasifikasi Penampakan UFO
Insiden di Pulau Alor, menurut klasifikasi penampakan UFO, J Allen Heynek mengatakan, masuk beberapa tingkat penampakan. Heynek adalah ahli astronomi yang semula meragukan UFO, namun setelah mengkaji beberapa kasus yang ada, ia justru menjadi pengamat serius UFO. Dan kemudian Heynek mendirikan Center for UFO Studies (CUFOS).
Berikut beberapa klasifikasi perjumpaan UFO jarak dekat menurut Heynek.
- Perjumpaan dekat tingkat pertama. Melihat UFO sedang terbang dalam jarak yang relatif dekat sehingga cukup jelas untuk melihat bentuknya.
- Perjumpaan dekat tingkat kedua. Melihat UFO dalam posisi mendarat di permukaan tanah, umumnya ditunjang dengan bekas-bekas pendaratan.
- Perjumpaan dekat tingkat ketiga. Melihat UFO mendarat serta terlihat pula ufonaut (Alien) yang turun atau berada di luar pesawat.
Perjumpaan dekat tingkat keempat dan kelima dikemukakan oleh penerus Heynek.
- Perjumpaan dekat tingkat keempat. Mengalami perjumpaan dengan Alien, namun sebagai korban penculikan. Korban penculikan Alien sering tidak sadar dengan apa yang menimpa dirinya dan mengalami perubahan psikologik atau fisiologik yang mengganggu.
- Perjumpaan dekat tingkat kelima. Melakukan komunikasi dengan Alien dan ikut bersama Alien tersebut dengan pesawat mereka secara sukarela. Beberapa kasus kontak atau komunikasi dengan alien ini hanya berupa kontak telepati atau melakukan perjalanan astral bersama Alien.
Nur Agustinus mengatakan, berdasar klasifikasi tersebut di Pulau Alor telah terjadi perjumpaan jarak dekat.

"Perjumpaan tingkat kelima dialami petani yang dikelilingi beberapa pengunjung asing dan ia diperlakukan dengan ramah bahkan kepadanya diperlihatkan sebuah benda bulat, logam kecil, seperti jam alarm," jelas Nur. YK/R-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!