Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

Mengikis Jurang Digital Perempuan

📅 Senin, 05 Agu 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Apakah digitalisasi akan menggerus atau memperluas kesenjangan gender di era ekonomi digital akan sangat tergantung pada pembuatan kebijakan. Ini perlu upaya serius. Memberi perempuan akses lebih besar ke teknologi digital merupakan titik pijak awal guna meminimalkan kesenjangan gender dan partisipasi kerja. Dalam jangka pendek, lokakarya atau pelatihan perlu dilakukan agar mampu beradaptasi dengan digitalisasi ekonomi.

Program jangka panjang yang perlu mendapat atensi, mengikis jurang ketimpangan pendidikan terutama terkait science, technology, engineering, mathematics). Sebuah penelitian yang diinisiasi OECD dan ASEAN (2017) memaparkan temuan, di Asia Tenggara, kaum perempuan lebih cenderung memilih fakultas ilmu sosial, humaniora, dan kependidikan ketimbang sains serta enginering. Beruntunglah menurut laporan tersebut, di Indonesia jumlah sarjana perempuan bidang sains masih be rimbang dengan pria.

Menurut catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), ketersediaan sumber daya manusia masih sangat minim untuk mendukung perekonomian digital. Antara tahun 2015 dan 2030, Menkominfo memperkirakan ada jurang antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja digital 9 juta karena tidak ada padu padan lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri.

Linier dengan investasi SDM dalam sistem pendidikan, pengembangan digital entrepreneurship bagi kaum perempuan juga patut dipertimbangkan. Kewirausahaan digital memberikan fleksibilitas dunia kerja dan urusan rumah tangga. Dia juga menawarkan solusi diskriminasi perempuan di dunia kerja reguler.

Harus diakui, hambatan bagi kerterlibatan kaum wanita dalam wirausaha digital termasuk e-dagang masih begitu besar. Selain akses modal dan inklusi keuangan, rendahnya literasi digital juga menyebabkan kesulitan memanfaatkan platform digital tersebut.

Perempuan banyak hadir di bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Diperkirakan 60 persen di antara 58 juta UMKM dijalanakan kaum perempuan. Meningkatkan daya saing dan produktivitas UMKM melalui kanal e-dagang, misalnya, diharapkan dapat menaikkan ekonomi masyarakat dan memotong mata rantai kemiskinan. Penulis Alumnus Curtin University, Perth, Australia

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan Ini, Ada Pestapora, The Weeknd hingga JBC Fun Run

10 Event Jakarta Akhir Pekan Ini, Ada Pestapora, The Weeknd hingga JBC Fun Run

25 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.