Rujak Uleg, Menu Khas Surabaya
📅 Senin, 01 Jul 2019, 01:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: koran jakarta/selocahyo
Rujak Cingur atau rujak uleg. Jika diucapkan nama kuliner ini, pasti akan terbesit dalam pikiran nama kota Surabaya. Ya, meski kaya akan beragam koleksi masakan Jawa Timur, citra salad tradisional ini sebagai makanan asli Kota Pahlawan tetap menjadi yang utama.
Saking populernya sajian rujak, setiap tahun Pemerintah Kota Surabaya menggelar acara "Festival Rujak Uleg" yang diikuti ribuan warga. Dalam festival itu masyarakat dapat menikmati secara cuma-cuma rujak buatan para peserta yang berasal dari seluruh kelurahan, instansi, dan perusahaan swasta itu.
Tak hanya pesta rujak, setiap kelompok peserta diwajibkan berdandan seunik mungkin dalam festival itu. Selanjutnya sambil mengenakan kostum hantu, superhero, wayang dan lain-lain, mereka menguleng bumbu rujak di cobek sambil berjoget.
Namun bagi kulinerista dan penggemar rujak yang masih penasaran tak perlu kecewa. Langsung saja langkahkan kaki menuju tempat-tempat penjual rujak yang banyak tersebar di Surabaya. Salah satu lokasi populer bagi penggemar rujak adalah Rujak Cingur Ahmad Jais.
Kedai rujak cingur ini memang cukup melegenda bagi penyuka rujak, tak hanya karena rasanya yang nikmat, tapi juga harganya cukup mahal. Ya, olahan rujak karya wanita asal Pasuruan, Jawa Timur,
Lim Sian Nio ini telah dikenal masyarakat sejak 1970. Usaha Lim Sian Nio berawal karena kebetulan, kala itu ada seorang penjual cingur yang setiap hari berkeliling menjajakan dagangannya.
Karena kasihan dengan kondisi cacat fisik sang penjual, Lim membeli cingur dalam jumlah besar. Setelah sempat bingung, dia memutuskan menggunakan moncong sapi itu sebagai bahan rujak, dan memulai usahanya.
Setelah anaknya menikah , Lim Sian Nio dibantu berjualan oleh sang menantu yang berasal dari Tiongkok, Ng Giok Tjoe. Setelah pengelolaan kedai itu diambil alih oleh Ng Giok Tjoe, usaha kuliner mereka semakin berkembang.

Kini kedai yang berada di kawasan Undaan itu diteruskan oleh Sioe Sin, putri Ng Giok Tjoe. Meski mematok harga tinggi untuk satu porsi rujak, 60 ribu rupiah, pelanggan tak pernah kapok.
Dengan nilai di atas paket andalan Burger King, Whooper itu, pembeli yang datang justru semakin banyak karena penasaran ingin mencoba. Tapi memang harga tak pernah bohong, istilah "you get what you pay far" berlaku di Rujak Cingur Ahmad Jais.
Pengunjung dapat melihat proses pembuatan bumbu yang tak jauh dari meja makan. Kadar pedas bumbu rujak akan disesuaikan sesuai selera setiap pemesan. Aroma harum petis racikan khusus, menyebar dari cobek berdiamter setengah meter itu, mengundang selera setiap yang menciumnya.
Setelah selesai, adonan bumbu dituangkan melumuri potongan cingur (moncong sapi) kangkung, kecambah, bengkuang dan mentimun yang telah disiapkan di piring.
Daging cingurnya berlimpah, bersih dan tanpa bau amis. Saat dikunyah, kekenyalan cingur terasa pas, tidak alot dan juga tidak terlalu lunak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!