Masih Adakah yang Berani Berkata Benar
📅 Kamis, 09 Agu 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiMelalui kisah Ion, misalnya, Foucault menunjukkan kebenaran dan pengungkapannya memiliki keterkaitan dengan kehormatan diri. Kebenaran tak mungkin dinyatakan oleh pribadi yang menyimpan cacat atau cemar. Kebenaran hanya dapat dipercaya bila disampaikan "orang yang tidak tercela dalam prinsip dan integritas" (hlm 76)
Dalam demokrasi, problem berikutnya cara mengenali yang mampu berbicara benar.
Meskipun dijamin konstitusi, mestinya kebebasan untuk berbicara tak lantas boleh menyatakan apa saja. Ada perbedaan antara menyampaikan kebenaran dan kenyinyiran. Dalam Yunani klasik, kenyinyiran diistilahkan sebagai athuroglossos, terjemahan dari "mulut seperti mata air yang mengucur." Hal tersebut merujuk pada orang yang gemar berbicara apa saja, tanpa tahu kebenarannya.
Orang nyinyir seperti itu hampir selalu muncul dalam sistem demokrasi. Peredaran hoaks yang meluas buktinya. Dalam konteks ini, merujuk analogi Yunani tentang mulut, gigi, dan bibir sebagai filter kebenaran berwicara. Mestinya, "Jika lidah tidak patuh atau menahan diri, kita dapat ... menggigitnya sampai berdarah" (hlm 68). Artinya, setiap orang harus mengubah hidup agar perkataan dan perbuatannya selaras dan mengandung kebenaran (hlm 119-120).
Diresensi Febrie G Setiaputra, Lulusan Fakultas Sastra, Universitas Jembe
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!