Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Studi IBM: Miliki Chief AI Officer Bisa Tingkatkan ROI AI Perusahaan Hingga 36 Persen

📅 Sabtu, 20 Sep 2025, 23:32 WIB | Oleh:
Studi IBM: Miliki Chief AI Officer Bisa Tingkatkan ROI AI Perusahaan Hingga 36 Persen Doc: IBM
Ket. Sebuah studi global terbaru IBM Institute for Business Value (IBV) menunjukkan bahwa wilayah Asia Pasifik berada di garis depan dalam pergeseran tren global terkait penunjukan Chief AI Officer (CAIO) untuk mendorong strategi dan eksekusi AI di seluruh perusahaan.

JAKARTA – Sebuah studi global terbaru IBM Institute for Business Value (IBV) menunjukkan bahwa wilayah Asia Pasifik berada di garis depan dalam pergeseran tren global terkait penunjukan Chief AI Officer (CAIO) untuk mendorong strategi dan eksekusi AI di seluruh perusahaan.

Pertimbangan bisnis untuk memiliki CAIO semakin kuat karena secara global, organisasi yang memiliki CAIO mencatat return on investment (ROI) 10% lebih tinggi pada investasi AI mereka. Dampaknya lebih signifikan ketika CAIO menerapkan model operasi AI yang terpusat atau hub-and-spoke, yang mampu mendorong ROI 36% lebih tinggi pada inisiatif AI.

Namun saat ini hanya 27% organisasi di Asia Pasifik (APAC), dan 26% secara global telah menunjuk CAIO. Di Indonesia, angkanya lebih rendah lagi di 17%.

“Dengan semakin banyak perusahaan Indonesia mempertimbangkan manfaat Kecerdasan Buatan dalam organisasi mereka, memiliki Chief AI Officer (CAIO) dapat membantu fokus pada pengembalian investasi teknologi baru ini untuk model bisnis mereka," ujar Juvanus Tjandra, Managing Partner, IBM Consulting Indonesia, melalui keterangan tertulis pada hari Kamis (18/9).

Menurut Juvanus, CAIO dapat membantu menggerakkan perusahaan menuju hasil yang terukur dan dapat diskalakan guna mendorong penghematan biaya serta mengidentifikasi area di mana karyawan yang ada dapat meningkatkan keterampilan mereka untuk pertumbuhan lebih lanjut.

“AI adalah alat yang akan memberdayakan semua pemangku kepentingan untuk masa depan yang lebih efisien,” paparnya.

CAIO di wilayah Asia Pasifik bersikap pragmatis mengenai pengukuran mereka mengakui pentingnya, namun tetap melangkah maju meskipun tanpa data yang sempurna antara lain 89% CAIO Indonesia mengatakan organisasi mereka berisiko tertinggal tanpa adanya pengukuran dampak AI (dibandingkan 72% secara global dan 74% di APAC). Selain itu 72% CAIO Indonesia memulai proyek AI bahkan ketika hasilnya tidak dapat sepenuhnya diukur (dibandingkan 68% secara global dan 70% di APAC).

Kemajuan AI di Indonesia didukung kuat dari eksekutif untuk CAIO, tidak jauh dari rekan-rekan global. Sebesar83% CAIO di Indonesia melaporkan mendapat dukungan CEO yang memadai (dibandingkan 80% secara global).

Selain itu 83% melaporkan dukungan yang lebih luas dari jajaran C-suite (dibandingkan 79% secara global). Sebesar 50% ditunjuk secara internal (dibandingkan 57% secara global), yang menandakan adanya komitmen untuk menumbuhkan kepemimpinan AI dari dalam organisasi.

CAIO di Indonesia mengambil beragam tanggung jawab yang mencakup strategi dan eksekusi. Sebesar 54% menempatkan strategi AI organisasi sebagai prioritas utama (hampir sesuai dengan rata-rata global). Namun hanya 29% yang fokus pada pembuatan kasus (use case) bisnis untuk AI (di bawah rata-rata global 45%). CAIO Indonesia juga memprioritaskan mengarahkan implementasi AI (50%) dan mengembangkan strategi change management untuk adopsi AI (39%).

CAIO di Indonesia membawa keahlian teknis yang spesifik antara itu 72% memiliki latar belakang di bidang data (sejalan dengan 73% secara global). Sebesar 61% berfokus pada inovasi (lebih rendah dibandingkan 73% secara global). Selanjutnya 56% berasal dari peran di bidang teknologi, sementara lebih banyak CAIO secara global berasal dari strategi bisnis (57%).

Meskipun adanya dukungan investasi dari eksekutif, organisasi di Indonesia tetap berada di tahap awal penerapan AI. Sebesar 67% organisasi di Indonesia masih berada pada tahap pilot dengan penerapan terbatas (dibandingkan 60% secara global dan 64% di APAC). Secara keseluruhan, 18% CAIO di Indonesia merasa implementasi AI sangat sulit (dibandingkan 30% secara global dan 33% di APAC).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.