Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Studi Accenture: Ambisi Besar, Kesiapan Rendah: Tantangan Adopsi AI di Asia Pasifik

📅 Selasa, 11 Nov 2025, 17:23 WIB | Oleh:
  Studi Accenture: Ambisi Besar, Kesiapan Rendah: Tantangan Adopsi AI di Asia Pasifik Doc: Accenture
Ket. Ilustrasi penggunaan AI oleh karyawan. Laporan Accenture menunjukkan 86% eksekutif Asia Pasifik akan menambah investasi AI, tetapi hanya 41% yang fokus pada peningkatan keterampilan karyawan.

JAKARTA - Disrupsi di kawasan Asia Pasifik terus meningkat seiring dengan perubahan ekonomi, teknologi, dan geopolitik yang berlangsung. Studi Accenture menemukan, sebanyak 92% eksekutif mencatat peningkatan intensitas perubahan sejak awal tahun, dan 86% meyakini tren ini akan terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Kawasan Asia Pasifik menonjol karena perkembangan yang pesat tapi juga dan pola pikir yang berani. Para pimpinan perusahaan di kawasan ini terus memperkuat investasi dalam AI, meskipun di tengah kekhawatiran terhadap resesi. Namun, optimisme tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan investasi dalam pelatihan tenaga kerja, yang menciptakan kesenjangan antara ambisi dan kemampuan.

Kurang dari separuh eksekutif yang disurvei menganggap pelatihan dan pengembangan karyawan sebagai elemen penting dalam transformasi AI, bahkan ketika karyawan secara aktif menggunakan teknologi ini. Hasilnya: tenaga kerja yang antusias tetapi tidak siap untuk menghadapi masa depan berbasis AI.

Untuk memastikan ambisi sejalan dengan kemampuan, para pimpinan perusahaan perlu membangun fondasi yang kokoh; tidak hanya melalui sistem yang kuat, tetapi juga dengan membekali tim dengan keterampilan yang memadai. Langkah ini penting untuk mendukung pertumbuhan dan mewujudkan visi perusahaan dalam penerapan AI secara lebih luas.

CEO Accenture Southeast Asia Anoop Sagoo, mengatakan Asia Tenggara sedang berada di masa disrupsi yang berkelanjutan, di mana perubahan kini menjadi satu-satunya hal yang konstan. Di seluruh kawasan, pihaknya melihat momentum kuat di balik investasi AI. Namun, antusiasme saja tidak cukup untuk menciptakan dampak.

“Banyak pimpinan yang masih kurang berinvestasi pada pelatihan tenaga kerja, sehingga menimbulkan kesenjangan kesiapan yang membatasi potensi penuh penggunaan AI. Ketika karyawan menunjukkan kemauan untuk beradaptasi, itu bukan sekadar sinyal, tetapi peluang untuk membangun keterampilan yang dibutuhkan agar AI benar-benar dapat dimanfaatkan secara maksimal,” ujar dia melalui keterangan tertulis pada hari Selasa (11/11).

Studi terbaru Pulse of Change oleh Accenture mengulas hubungan yang terus berkembang antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja. Studi ini melibatkan 700 pimpinan perusahaan dan 713 karyawan di kawasan Asia Pasifik.

Hasil temuan dari studi ini mengungkapkan sejauh mana keselarasan dan perbedaan antara pandangan para pimpinan dan karyawan, terutama dalam hal penerapan AI, kesiapan tenaga kerja, dan investasi pada teknologi agentic AI.

Meskipun para pimpinan dan karyawan menunjukkan pandangan yang selaras terhadap manfaat AI, Accenture masih menemukan perbedaan yang cukup besar terkait seberapa siap tenaga kerja dan perusahaan dalam mengadopsi teknologi ini.

Beberapa hal yang dianggap selaras adalah, AI kini tidak lagi dianggap sekadar alat bantu, melainkan berperan sebagai “rekan kerja” dalam aktivitas sehari-hari. Tantangan utama bagi banyak perusahaan saat ini adalah menyelaraskan visi kepemimpinan dengan kesiapan karyawan, karena kurangnya pelatihan dan peningkatan keterampilan dapat menghambat keberhasilan transformasi AI di berbagai organisasi.

Temuan utama dari studi ini adalah meskipun ada ketidakpastian ekonomi dan ancaman resesi, 86% eksekutif perusahaan di Asia Pasifik berencana untuk meningkatkan investasi AI pada 2025, namun hanya 41% yang memprioritaskan pelatihan dan pengembangan karyawan untuk mendukung transformasi tersebut.

Para pimpinan perusahaan menyadari dampak positif AI, di mana 58% melaporkan peningkatan produktivitas terbesar di bidang IT/teknologi, diikuti dengan bagian operasional (43%) dan penelitian dan pengembangan (41%).

Dari sisi karyawan, 55% mengatakan bahwa mereka kini lebih sering mengandalkan AI untuk membantu menyelesaikan tugas dibandingkan meminta bantuan kepada rekan kerja. Penggunaan AI paling umum adalah untuk analisis data (51%), disusul untuk keperluan pembelajaran dan pengembangan, serta riset.

Namun, ambisi dan investasi ini belum diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja. Sebanyak 73% karyawan merasa kecepatan perkembangan AI melampaui kemampuan perusahaan mereka dalam memberikan pelatihan yang memadai.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Armenia Terbelah Dua Kubu A...
Nasional
DPR Dorong Distribusi Digit...
Luar Negeri
Pekerja Mogok Kerja, Layana...
Daerah
Bangka Tengah Tanam Padi Go...
Luar Negeri
Aset Beku Iran Cair, Trump ...
Nasional
Kemenbud Dorong Pelurusan S...
Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.