Rupiah Hari Ini Tertekan! Serangan Ukraina ke Kilang Rusia Picu Gejolak Global
📅 Senin, 04 Mei 2026, 16:55 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Rupiah melemah dipicu ketegangan geopolitik menyusul serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia. Kondisi ini mencerminkan sensitivitas tinggi pasar keuangan terhadap eskalasi geopolitik.
Gangguan terhadap infrastruktur energi Rusia berpotensi memicu kenaikan harga minyak global, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan impor bagi negara-negara seperti Indonesia.
Kondisi ini memperlebar defisit transaksi berjalan dan mendorong permintaan dolar AS, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, ketidakpastian global juga mendorong investor cenderung beralih ke aset safe haven, memperkuat dolar dan memperlemah mata uang emerging markets.
Dengan demikian, pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika eksternal yang sulit dikendalikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (4/5), melemah 57 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.394 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.337 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia.
“Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia dan kita lihat bahwa kilang-kilang minyak di Rusia banyak yang terkena drone dari Ukraina,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengutip Xinhua, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan serangan Kiev terhadap infrastruktur minyak Rusia dapat memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut.
Pengurangan pasokan minyak Rusia ke pasar global disebut akan memicu kenaikan harga yang lebih tajam.
Kementerian Pertahanan Rusia menyampaikan bahwa sistem pertahanan udaranya telah menembak jatuh 740 drone Ukraina di garis depan dalam 24 jam terakhir per hari Minggu (3/5).
“Jadi, Ukraina rupanya lebih banyak lagi mengirim drone-drone secara jarak jauh yang mengakibatkan kondisi di wilayah Rusia, terutama adalah kilang-kilang minyak ini mengalami kebakaran yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga minyak mengalami kenaikan,” ungkap Ibrahim.
Sentimen lain dari isu geopolitik di Timur Tengah, terkait ucapan Presiden AS Donald Trump bahwa AS akan mulai mengawal kapal-kapal asing netral keluar dari Selat Hormuz yang digambarkan sebagai isyarat kemanusiaan terhadap negara-negara yang terjebak dalam konflik yang tak mereka ikuti.
Walaupun Trump berniat membebaskan Selat Hormuz dari Iran, di sisi lain Iran sudah siap untuk melakukan perang panjang, sehingga konflik ini menciptakan ketegangan yang cukup masif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!