Dekati Level Psikologis Baru! Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah di Rp17.966 per Dolar AS
📅 Rabu, 03 Jun 2026, 17:15 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan rupiah hingga nyaris menyentuh level psikologis baru mencerminkan kuatnya kombinasi tekanan dari faktor global dan domestik.
Dari eksternal, sentimen penguatan dolar AS, ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Sementara dari dalam negeri, pasar turut mencermati prospek pertumbuhan ekonomi, kondisi fiskal, dan kebutuhan valuta asing yang meningkat.
Kombinasi kedua faktor tersebut memperbesar tekanan terhadap nilai tukar, sekaligus menunjukkan bahwa stabilitas rupiah saat ini tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan kepercayaan investor terhadap prospek Indonesia.
Nilai tukar rupiah, Rabu (3/6), ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen menjadi Rp17.966 per dolar AS pada perdagangan Rabu sore.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS itu dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari eksternal, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.
"Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada hari Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran," ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, laporan media Iran yang menyebut tidak adanya komunikasi antara Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir memunculkan spekulasi bahwa perundingan mengalami kebuntuan.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan mendorong spekulasi bahwa bank sentral AS alias The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Data yang dirilis pada Selasa (2/6/2026) menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS meningkat secara tak terduga pada April 2026.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan tetap bersikap ketat dalam kebijakan moneternya.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, dan data pesanan pabrik yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed menjelang rilis data nonfarm payrolls pada Jumat (5/6/2026).
Sementara, dari dalam negeri, Ibrahim memandang sentimen terhadap mata uang garuda memburuk setelah inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 yang sebesar 0,13 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!