Momentum Pemulihan Ekonomi Meredup
📅 Rabu, 26 Apr 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: IMF - KJ/ONES
» IMF memperkirakan ekonomi global akan melambat dari 3,4 persen pada 2022, menjadi 2,8 persen di 2023.
» Penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara harus makin efisien dan mendorong daya saing.
JAKARTA - Momentum penguatan pemulihan ekonomi global pada awal tahun kini meredup karena dipengaruhi gejolak di sektor keuangan Amerika Serikat (AS) dan Eropa serta tekanan inflasi yang persisten tinggi.
Meredupnya pemulihan ekonomi dunia itu juga terlihat dari proyeksi yang disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini yang memperkirakan ekonomi global akan melambat dari 3,4 persen pada 2022, menjadi 2,8 persen pada 2023. Proyeksi tersebut juga lebih rendah 0,1 persen dibanding proyeksi IMF pada Januari 2023 di level 2,9 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kepala Badan kebijakan Fiskal (BKF), Febrio Nathan Kacaribu, baru-baru ini mengatakan proyeksi inflasi global pada 2023-2024 juga naik 0,4 dan 0,6 persen menjadi 7,0 persen dan 4,9 persen.
Untuk menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi global tersebut, pemerintah berkomitmen melanjutkan berbagai kebijakan yang prudent, namun tetap suportif dalam penguatan fondasi ekonomi.
Pemerintah juga akan terus menjalankan kebijakan yang antisipatif dalam menghadapi turbulensi perekonomian global dengan tetap mengawal rencana pembangunan jangka menengah-panjang, antara lain melalui melalui reformasi struktural.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan sejak awal 2023, pemerintah sebetulnya telah menyadari bahwa awan hitam masih menghantui ekonomi global yang belakangan ini kembali bakal meredup akibat berkepanjangannya gejolak keuangan di Amerika dan Eropa serta tingkat inflasi yang tampak resisten terhadap kebijakan anti-inflasi.
"Sebab itu, harus terus ditingkatkan secara sistematis upaya untuk memperkuat resiliensi ekonomi nasional. Resiliensi harus dipahami tidak hanya sekadar mampu bertahan, tetapi juga mampu melakukan reorientasi ekonomi dan bahkan pembaruan-pembaruan," kata Aloysius.
Pertama, menurut Aloysius, diperlukan keterpaduan sektor industri manufaktur dan ekspor harus diperkuat, termasuk dengan langkah hilirisasi mineral secara konsisten.
Kedua, juga menuntut diversifikasi ekonomi dan ekspor, sembari tetap mengembangkan sektor atau komoditas secara selektif. Ketiga, dari sisi fiskal, defisit perlu dipertahankan di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sehingga bila terpaksa memperbesar defisit sebagai respons terhadap krisis, masih terbuka cukup ruang untuk bermanuver.
"Bersamaan dengan itu, penggunaan anggaran juga harus makin efisien dan mendorong daya saing," jelas Aloysius.
Stabilitas Pangan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!