Akhemeniyah, Kekaisaran yang Mewariskan Multikulturalisme
📅 Senin, 29 Apr 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: afp/ Sarah LAI
Setelah Cyrus raja pertama dari Kekaisaran Akhemeniyah menaklukan Babilonia kota yang sangat besar saat itu, ia membiarkan seluruh suku hidup berdampingan. Prinsip multikulturalisme yang diberlakukan membawa mencapai pemerintahan yang stabil menjadikan kekaisaran pertama yang kekuasaan sangat luas.
Di sebelah timur Pegunungan Zagros, terbentang dataran tinggi menuju India. Ketika Mesir bangkit melawan Hyksos, gelombang suku penggembala dari utara Laut Kaspia mengalir ke wilayah ini dan menyeberang ke India.
Pada saat Asyur atau Asiria membangun kerajaan baru mereka, gelombang kedua telah meliputi seluruh wilayah antara Zagros dan Hindu Kush. Beberapa suku menetap, yang lain mempertahankan gaya hidup semi-nomaden. Mereka adalah orang-orang Persia yang menyebut dirinya Iran.
Seperti semua masyarakat nomaden yang tidak memiliki polisi dan pengadilan, kode kehormatan merupakan hal yang penting bagi suku-suku Iran. Dalam soal kepercayaan, agama mereka berbeda dengan keyakinan agama masyarakat petani.
Ketika para petani di Mesir dan Mesopotamia telah mengubah dewa-dewa alam menjadi penjaga kota, orang-orang Iran mulai menyaringnya menjadi beberapa prinsip universal. Zoroaster, yang hidup sekitar tahun 1000 SM, mendorong proses ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Baginya, satu-satunya tuhan adalah sang pencipta, Ahura Mazda, pembawa cahaya, ketertiban, dan kebenaran. Dengannya, hukum atau logika dunia disusun. Bahkan mereka yang tidak menganut Zoroastrianisme tumbuh dalam budaya yang menghargai gagasan etis sederhana seperti mengatakan kebenaran.
Dalam bukunya Atlas of Empires, Peter Davidson bercerita tentang bagaimana dan mengapa kerajaan-kerajaan besar dalam sejarah muncul, beroperasi dan akhirnya mengalami kemunduran. Ia juga membahas masa depan kerajaan tersebut di dunia yang terglobalisasi saat ini.
Davidson menulis, di beberapa daerah, satu suku berhasil mengumpulkan kumpulan suku lain di bawah kepemimpinannya. Orang Media adalah salah satunya. Mereka membangun ibu kota di Ecbatana yang artinya tempat pertemuan di bagian timur Zagros tempat mereka memperluas kekuasaannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 612 sebelum masehi (SM), Cyaxares, Raja Media, menyerbu Niniwe bersama orang Kasdim atau orang yang berasal dari daerah berawa-rawa yang terletak di selatan Irak. Setelah itu ia bergerak ke barat laut.
Pada 585 SM, bangsa Media berperang melawan bangsa Lydia di Sungai Halys ketika gerhana matahari membuat kedua belah pihak takut untuk berdamai. Segera setelah itu, Cyaxares mati dan meninggalkan sebuah kerajaan kepada putranya, Astyages (585-550 SM).
Salah satu wilayah yang sukunya membayar upeti kepada Media adalah Persia yang terletak di tenggara Ekbatana di luar Elam. Ada sekitar 10 atau 15 suku di Persia, salah satunya adalah Pasargadae. Pemimpin Pasargadae selalu berasal dari klan Akhemeniyah.
Klan Akhemeniyah merupakan dinasti pertama asal Persia yang menjadi penguasa seluruh Iran, sehingga kekaisaran mereka juga disebut dengan Kekaisaran Persia Pertama. Sebelum menguasai seluruh Iran, dinasti ini awalnya adalah penguasa kawasan Persia (Iran selatan).
Pada 559 SM, klan Akhemeniyah seorang pemimpin baru dipilih namanya Cyrus II. Cyrus sendiri adalah cucu Astyages dari pihak ibunya, namun hal itu tidak menghentikannya untuk melepaskan diri dari suku Media.
Pada 552 SM, ia telah membentuk suku-suku Persia menjadi sebuah federasi dan memulai serangkaian pemberontakan. Ketika pertikaian yang tak terelakkan dengan kakeknya terjadi pada 550 SM, bangsa Media memberontak dan bergabung dengan Cyrus untuk bergerak ke Ecbatana.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!