Percepat Populasi Sapi Berkualitas, Kementan Andalkan Transfer Embrio dan Genomik
📅 Minggu, 20 Sep 2026, 14:55 WIB | Oleh: Tim RedaksiTANGERANG— Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemuliaan ternak Indonesia memasuki tahap yang lebih presisi. Seleksi ternak tidak lagi hanya bertumpu pada penampilan fisik dan silsilah, tetapi mulai diperkuat dengan informasi DNA untuk mengetahui potensi genetik ternak sejak lebih dini.
Pengembangan tersebut menjadi pembahasan dalam talkshow Precise Improvement Through Genetic Selection: Membangun Peternakan Indonesia Berbasis Genetik Unggul di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (17/9/2026).
Mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Hary Suhada mengatakan peningkatan mutu genetik tidak dapat dikerjakan pemerintah sendiri.
Menurut Hary, teknologi reproduksi, kualitas sumber daya manusia, riset, data, serta keterlibatan dunia usaha harus bergerak bersama agar perbaikan genetik dapat berlangsung lebih cepat dan menghasilkan ternak yang semakin produktif.
“Penguatan genetik tidak bisa dilakukan sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi dengan pelaku usaha genetik, perguruan tinggi, lembaga riset, serta pengembangan teknologi reproduksi seperti transfer embrio untuk mempercepat peningkatan populasi ternak berkualitas,” ujar Hary.
Sebaiknya Anda baca juga:
Langkah tersebut sejalan dengan transformasi Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang menuju BEStGen atau Balai Embrio dan Sertifikasi Genomik. Transformasi itu telah diperkenalkan BET dalam rangkaian ILDEX Indonesia 2026 sebagai bagian dari penguatan teknologi reproduksi dan pemanfaatan informasi genomik.
Kepala BET Cipelang Deasy Zamanti mengatakan perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan Indonesia dalam mengelola sumber daya genetik ternak secara lebih maju.
“Kalau kita tidak melangkah maju, masa kita terus di titik nol? Ini adalah titik awal kita untuk melangkah menjadi lebih maju,” kata Deasy.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Deasy, pengembangan BEStGen diarahkan untuk memperkuat pengelolaan informasi dan material genetik ternak. Data tersebut nantinya dapat mendukung seleksi, konservasi plasma nutfah, serta pengembangan ternak yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
BET sendiri telah mulai menerapkan teknologi genomik terhadap populasi ternaknya. Publikasi sektor peternakan pada Juli 2026 mencatat hampir 200 sapi BET telah dipetakan genomnya untuk melihat sejumlah karakter, termasuk potensi produksi, pertumbuhan, daya tahan penyakit, dan adaptasi terhadap panas.
“Genomik ini tidak milik pribadi, ini milik semuanya. BEStGen nanti akan banyak berkolaborasi untuk menelusur, mencari data dan informasi yang membantu kita menyusun tatanan genetik unggul yang kita butuhkan,” ujar Deasy.
Guru Besar Universitas Sebelas Maret Prof. Sigit Prastowo mengatakan salah satu tantangan pemuliaan adalah mengetahui potensi seekor ternak sebelum seluruh performanya terlihat.
Seekor pedet, misalnya, belum dapat menunjukkan secara langsung kemampuan produksi susu, fertilitas, ataupun karakter produktif lainnya ketika baru dilahirkan.
“Ketika kita melihat seekor pedet, kita tidak pernah tahu berapa kemampuan produksinya nanti setelah dia dewasa, kemudian harus bunting dan melahirkan,” ujar Sigit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!