Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Geser Pola Reaktif Menjadi Antisipatif

📅 Kamis, 17 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Geser Pola Reaktif Menjadi Antisipatif Doc: antara
Ket. Muhammad Najib Azca Plt Kepala Organisasi Riset IPS dan Humaniora BRIN - Pemulihan pascabencana tidak dapat direduksi menjadi sekadar persoalan teknis dan administratif.

Penanganan bencana hidrometeorologi di Indonesia dapat dicapai secara maksimal apabila dilakukan bersama-sama dengan melibatkan beragam pihak.

Jakarta - Penanganan dan pemulihan pascabencana di Indonesia perlu diperkuat dengan pendekatan multidisiplin serta bergeser dari pola reaktif menjadi antisipatif agar perlindungan masyarakat, terutama kelompok rentan, dapat disiapkan sebelum dampak terburuk bencana terjadi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Najib Azca mengatakan pemulihan pascabencana tidak cukup dilakukan melalui pendekatan teknis dan administratif, tetapi harus mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan kearifan lokal.

"Pemulihan pascabencana tidak dapat direduksi menjadi sekadar persoalan teknis dan administratif. Ia adalah proses sosial yang kompleks sehingga sangat diperlukan kolaborasi lintas sektor, pendekatan multidisiplin, lintas perspektif, serta sensitif terhadap konteks sosial, budaya, dan kearifan lokal," ujar Najib dalam acara Kick Off Meeting Task Force Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera BRIN, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Rabu (16/9).

Menurut Najib, perspektif ilmu sosial dan humaniora memandang bencana bukan hanya sebagai peristiwa alam, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial yang terbentuk dalam jangka panjang, termasuk relasi sosial, tata kelola sumber daya, serta akumulasi kerentanan sosial, ekonomi, budaya, dan politik.

Sebaiknya Anda baca juga:

Dalam konteks banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 2025, dampak bencana tidak tersebar merata dan mengikuti ketimpangan yang telah ada.

"Kelompok rentan, baik karena faktor ekonomi, gender, usia, maupun akses terhadap sumber daya, seringkali menjadi pihak yang paling terdampak, sekaligus paling lambat pulih," kata dia.

Najib mengatakan Task Force PRR BRIN juga bertanggung jawab menghubungkan hasil riset dan inovasi teknologi dengan kebutuhan masyarakat terdampak di lapangan.

Masyarakat Terdampak

Sementara itu, Peneliti The Indonesian Institute (TII) Made Natasya Restu Dewi Pratiwi mengusulkan agar manajemen bencana di Indonesia beralih dari pendekatan reaktif menjadi antisipatif dan kolaboratif.

"Pada akhirnya, gempa NTT harus menjadi momentum untuk mengubah cara Indonesia mengelola bencana dari reaktif menjadi antisipatif dan responsif, serta kolaboratif," kata Natasya saat dikonfirmasi di Jakarta.

Menurut dia, gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya menyangkut besarnya ancaman, tetapi juga kesiapan pemerintah menyediakan bantuan dan perlindungan bagi masyarakat terdampak.

Ia menyoroti keterbatasan air minum, air bersih, dan bahan makanan di pengungsian yang dapat semakin menyulitkan kelompok rentan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

"Kelompok yang sejak awal memiliki keterbatasan akses terhadap informasi, mobilitas, layanan kesehatan, maupun sumber daya akan menghadapi risiko yang lebih besar ketika sistem penanganan bencana belum dirancang secara inklusif," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
  • Ekonomi Kreatif dan UMKM Jakarta Mulai Andalkan Cetak 3D untuk Produksi Skala Kecil
    Mengetahui fakta bahwa penggunaan filamen berbasis PLA yang ...
  • Industri Baterai Dipacu, Transisi Energi dan Ekonomi Digital Jadi Kunci
    Ulasan yang sangat komprehensif dari Koran Jakarta mengenai ...
Megapolitan
Wira Usaha Baru Harapan Tin...

JIEP Menata Ulang Program Prioritas

1.5 jam yang lalu | Sujar

Megapolitan
JIEP Menata Ulang Program P...
Luar Negeri
Perang Berskala Besar Makin...

Geser Pola Reaktif Menjadi Antisipatif

1.5 jam yang lalu | Lukman

Nasional
Geser Pola Reaktif Menjadi ...
Olahraga
Monako Jadi Salah Satu dari...
Advertisement
Indonesia Resmi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal Lengkap Timnas Garuda

Indonesia Resmi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Jadwal Lengkap Timnas Garuda

16 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.