Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pasar RI Belum Aman, Risiko Global Masih Mengintai

📅 Jumat, 11 Sep 2026, 18:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pasar RI Belum Aman, Risiko Global Masih Mengintai Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto.
Ket. Ilustrasi - Seorang pria berjalan di atas layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

JAKARTA – Tekanan global masih membayangi pasar keuangan domestik, seiring investor mencermati berbagai risiko eksternal yang berpotensi meningkatkan volatilitas.

Pergerakan harga komoditas, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, hingga ketegangan geopolitik menjadi faktor yang mendorong investor lebih berhati-hati.

Kondisi tersebut membuat sentimen global tetap menjadi tantangan bagi pasar Indonesia, meski fundamental ekonomi domestik masih menjadi penopang.

PT Mirae Asset Sekuritas menilai pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan dari sentimen global yang belum sepenuhnya mereda.

Hal itu tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat turun 1,33 persen ke level 6.589 yang diikuti aksi jual bersih investor asing sebesar Rp748 miliar di pasar reguler.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (11/9), mengatakan di tengah kondisi ini, investor perlu tetap selektif dengan mencermati fundamental dan perkembangan likuiditas domestik.

Tekanan terlihat pada saham perbankan, khususnya BBCA dan BBRI, yang sebelumnya menjadi salah satu penopang pasar.

Sementara itu, investor asing masih mengakumulasi sejumlah saham seperti ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA, mengindikasikan adanya rotasi parsial menuju saham komoditas dan sektor tertentu.

"Sentimen global masih menantang seiring US10YT mendekati 5 persen, kenaikan drastis ECB menjadi 2,5 persen, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Namun, transmisi ke pasar domestik sejauh ini relatif terbatas," ujar Rully.

Menurut Rully, rupiah saat ini berada di sekitar Rp17.547 per dolar AS dengan yield SBN 10 tahun sebesar 7,11 persen.

Tidak adanya lelang SRBI sepanjang September turut mendorong realokasi likuiditas perbankan ke SBN.

Penguatan rupiah memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mengurangi stance defensif dan melonggarkan kondisi likuiditas dalam jangka pendek, meski tekanan harga minyak dan global yields masih membatasi ruang pengelolaan melalui BI-Rate.

Di tengah dinamika pasar tersebut, perkembangan konsumsi domestik juga menjadi perhatian.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri mengatakan keyakinan konsumen mulai menunjukkan perbaikan, meski pemulihannya masih belum merata.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Luar Negeri
Islandia akan Mengajukan RU...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.