IHSG Hari Ini Tertekan Dipicu Harga Minyak Membara
📅 Jumat, 11 Sep 2026, 17:15 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejalan dengan mayoritas bursa Asia yang berada dalam tekanan akibat aksi risk off investor.
Sentimen tersebut dipicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak yang berpotensi mendorong inflasi global dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi.
Kondisi ini membuat investor cenderung mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman, sehingga tekanan jual di pasar saham meningkat.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (11/9) sore, ditutup melemah 47,96 poin atau 0,73 persen ke posisi 6.541,38 mengikuti bursa kawasan Asia seiring investor bersikap risk off (menghindari aset berisiko) dipicu oleh tingginya harga minyak di tingkat global.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,26 poin atau 0,95 persen ke posisi 649,72.
“IHSG dan bursa regional Asia melemah dampak dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak yang membebani sentimen,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias NIco dalam kajiannya di Jakarta.
Dari mancanegara, Nico mengatakan konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah menyebabkan harga minyak mentah global mencapai level di atas 100 dolar AS per barel.
Harga minyak mentah ke level tinggi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tidak mengharapkan perang Iran berakhir sebelum pemilihan paruh waktu November 2026, dan bahwa harga minyak kemungkinan tidak akan turun sampai saat itu.
Para pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) dilaporkan memperingatkan Trump bahwa perang dapat berlanjut hingga akhir masa jabatannya, yang berakhir pada Januari 2029.
Sementara itu, para pemimpin Iran dilaporkan bertekad untuk terus berperang meskipun biaya ekonomi terus meningkat, dan memandang konflik tersebut sebagai ancaman eksistensial.
Mereka juga mengklaim bahwa Teheran telah berhasil membangun kembali kemampuan rudalnya, serta dapat mengintensifkan serangan terhadap aset AS dan negara-negara Teluk apabila Washington meningkatkan serangannya.
“Konflik yang meningkat antara AS dan Iran memicu kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi global,” ujar Nico.
Di sisi lain, pelaku pasar menantikan rilis laporan data inflasi AS, yang sebelumnya data PPI Final Demand mengalami kenaikan dari sebelumnya 0,1 persen month to month (mtm) menjadi 0,4 persen (mtm), serta naik dari sebelumnya 4,3 persen year on year (yoy) menjadi 4,6 persen (yoy).
Hal tersebut tentu membuat pelaku pasar khawatir, bahwa rangkaian data inflasi AS yang dimulai dari inflasi produsen akan terus mengalami kenaikan akibat perang yang berkepanjangan karena harga energi mengalami kenaikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!