Rupiah Hari Ini Lesu Darah, Inflasi Produsen AS Menguat
📅 Jumat, 11 Sep 2026, 17:02 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Kenaikan data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS) kembali menekan rupiah karena memperkuat kekhawatiran pasar terhadap persistennya inflasi AS.
Kondisi tersebut berpotensi membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, sehingga dolar AS menguat dan aset negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada arah kebijakan The Fed serta perkembangan data inflasi AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (11/9), bergerak melemah 64 poin atau 0,36 persen menjadi Rp17.611 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.547 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menyatakan pergerakan rupiah tertekan akibat kenaikan data Producer Price Index (PPI) AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Rupiah pada perdagangan Jumat masih bergerak di bawah tekanan setelah pasar merespons data PPI AS (meningkat menjadi 5,4 persen year on year (yoy) dari 4,8 persen yoy pada bulan sebelumnya, melampaui konsensus sebesar 5,3 persen yoy) yang dirilis Kamis (10/9),” katanya di Jakarta.
Kenaikan PPI menjadi 5,4 persen secara tahunan disebut membuat perhatian investor kembali tertuju pada risiko inflasi dan prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed), yang turut mendorong kenaikan yield obligasi AS dan menjaga permintaan terhadap dolar.
Tekanan eksternal juga diperkuat oleh harga minyak yang tetap tinggi di tengah ketegangan geopolitik.
Sementara itu, melihat sentimen domestik, data penjualan ritel yang dirilis Kamis (10/9) menunjukkan perbaikan aktivitas konsumsi, sehingga menjadi salah satu faktor yang membantu membatasi pelemahan rupiah.
“Untuk perdagangan selanjutnya, fokus pasar akan bergeser pada CPI (Consumer Price Index) AS yang dirilis Jumat malam (11/9). Hasil inflasi tersebut akan menjadi penentu apakah penguatan dolar dan kenaikan yield AS berlanjut menjelang keputusan The Fed pekan depan,” ungkap Amru.
Jika CPI lebih tinggi dari perkiraan, lanjut dia, rupiah berpotensi kembali tertekan, sedangkan hasil yang lebih rendah dapat membuka ruang pemulihan. Dengan kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak cukup volatil dalam kisaran Rp17.500 - Rp17.650 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.611 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.536 per dolar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!