Tanpa Teknologi, Hilirisasi Tanah Jarang RI Terancam Jalan di Tempat
📅 Kamis, 10 Sep 2026, 23:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pengolahan logam tanah jarang menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi mineral Indonesia, mengingat komoditas ini memiliki peran penting dalam berbagai industri berteknologi tinggi.
Tantangannya bukan hanya menemukan dan mengekstraksi sumber daya, tetapi juga membangun kapasitas pengolahan di dalam negeri agar Indonesia tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah dan mampu menangkap nilai tambah yang lebih besar.
Badan Industri Mineral (BIM) mengatakan perlunya percepatan penguasaan teknologi pengolahan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) melalui kemitraan dengan penyedia teknologi untuk mendukung pengembangan industri strategis nasional.
Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi mengatakan penguasaan teknologi menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan logam tanah jarang, terutama karena proses pemisahan unsur-unsurnya hingga menjadi single element membutuhkan teknologi yang kompleks.
“Yang kita harus lakukan adalah percepatan melalui jalur yang kira-kira fast track dengan bermitra dengan sejumlah technology provider, kemudian juga secara normal BIM dan Perminas (Perusahaan Mineral Nasional) ini membangun industri yang tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama,” kata Yogi dalam acara Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Kamis (10/9).
Yogi menjelaskan logam tanah jarang terdiri atas 17 unsur yang memiliki karakteristik serupa sehingga proses pemisahannya menjadi unsur tunggal menjadi tantangan tersendiri.
Menurut dia, penguasaan teknologi menjadi semakin penting karena persaingan global terkait mineral strategis tidak lagi hanya berkaitan dengan kepemilikan sumber daya, tetapi juga kemampuan membangun rantai pasok dan menguasai teknologi ekstraksi serta pemisahan.
Yogi menekankan pengembangan industri logam tanah jarang membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari kepastian bahan baku, sumber daya dan cadangan, kesiapan teknologi, hingga industri hilir.
Ia mengatakan Indonesia memiliki sejumlah sumber potensial logam tanah jarang yang masih terus dikaji, termasuk sumber primer, sekunder, dan limbah elektronik.
Namun, Yogi menyebut Indonesia belum tercantum dalam peta global sumber daya dan cadangan logam tanah jarang karena pemerintah masih melakukan survei dan eksplorasi serta menyiapkan competent person untuk memastikan besaran sumber daya dan cadangan yang dimiliki.
Menurut dia, informasi mengenai sumber daya dan cadangan tersebut penting sebagai dasar untuk menentukan langkah pengembangan industri pengolahan logam tanah jarang di dalam negeri.
Logam tanah jarang dinilai strategis karena dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk kendaraan listrik, turbin angin, energi bersih, industri cerdas, industri elektronik hingga industri pertahanan.
Oleh karena itu, Yogi menilai hilirisasi logam tanah jarang perlu disertai penguasaan teknologi agar sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia dapat menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!