ParagonCorp dan BRIN Perkuat Ekosistem Riset, Dorong Kolaborasi Industri dan Peneliti
📅 Rabu, 09 Sep 2026, 13:40 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Kolaborasi antara dunia industri dan lembaga penelitian dinilai semakin penting untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu fokus ParagonCorp dan Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam memperkuat kerja sama penelitian dan pengembangan.
Penguatan kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada 1 September 2026 di ParagonCorp Head Office, Jakarta Selatan. Kerja sama ini menjadi ruang bagi peneliti dan praktisi industri untuk bertukar pengetahuan, perspektif, serta pengalaman dalam proses pengembangan inovasi.
Bagi ParagonCorp, inovasi berbasis sains tidak cukup hanya mengandalkan teknologi dan fasilitas penelitian yang tersedia. Kemampuan membangun pengetahuan, menguji berbagai kemungkinan, serta mengevaluasi temuan secara sistematis juga menjadi bagian penting dalam menghasilkan inovasi yang relevan dan berkelanjutan.
Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E., FINSDV, mengatakan kolaborasi dengan institusi riset nasional dapat memperluas perspektif perusahaan dalam mengembangkan inovasi. Menurutnya, interaksi antara tim industri dan peneliti juga dapat membantu membangun kapabilitas yang dibutuhkan untuk menghadapi kebutuhan inovasi di masa depan.
“Bagi ParagonCorp, inovasi berbasis sains dibangun dari kemampuan untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan. Kolaborasi dengan BRIN memberikan ruang bagi tim industri dan peneliti untuk saling bertukar perspektif, memperkaya cara pandang terhadap proses penelitian, sekaligus membangun kapabilitas yang dapat mendukung pengembangan inovasi di masa depan,” ujar Sari.
Kolaborasi tersebut dibangun dengan kompetensi yang saling melengkapi antara kedua pihak. BRIN memiliki kemampuan dalam penelitian dan pengembangan, sementara ParagonCorp membawa pengalaman industri dalam melihat kebutuhan penerapan serta pengembangan hasil penelitian.
Pertukaran kemampuan tersebut membuat proses kolaborasi tidak hanya berlangsung satu arah. Industri dapat memperluas pemahaman mengenai pendekatan dan metode ilmiah, sedangkan peneliti mendapatkan perspektif mengenai kebutuhan, tantangan, serta kondisi penerapan pengetahuan di dunia industri.
Senior Researcher BRIN Rahmania Admirasari mengatakan hubungan antara lembaga penelitian dan industri dapat menjadi sarana untuk memperkaya perspektif kedua pihak. Menurutnya, pertukaran pengetahuan diperlukan untuk membangun lingkungan riset yang lebih terbuka dan kolaboratif.
“Kolaborasi antara lembaga riset dan industri memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling memperkaya perspektif. Peneliti dapat memahami kebutuhan dan tantangan di industri, sementara industri dapat memperoleh perspektif ilmiah yang lebih mendalam,” ujar Rahmania.
Menurut Rahmania, pola kerja sama tersebut dapat membantu memperkecil jarak antara pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian dan kebutuhan yang muncul di dunia nyata. Dengan interaksi yang lebih erat, hasil penelitian dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan konteks penerapan tanpa mengabaikan prinsip dan proses ilmiah.
Kerja sama ParagonCorp dan BRIN juga diarahkan untuk membangun kapabilitas riset dalam jangka panjang. Fokusnya tidak hanya pada penyelesaian satu proyek, tetapi juga pada bagaimana proses penelitian dapat menghasilkan pengetahuan yang terus berkembang serta mendukung kemampuan inovasi kedua pihak.
Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng., mengatakan kolaborasi dengan industri diperlukan untuk memperkuat hubungan antara dunia discovery dan industri. Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi kesempatan untuk menggabungkan berbagai sumber daya dan kompetensi yang dimiliki oleh masing-masing pihak.
“Kolaborasi riset dengan industri diperlukan untuk memperkuat jembatan antara dunia discovery dan dunia industri. Karena itu, kerja sama ini bukan sekadar penandatanganan dokumen, tetapi menjadi langkah awal untuk mempertemukan kekuatan riset, sumber daya manusia, pengetahuan, fasilitas, bahan, serta kemampuan teknologi yang dimiliki kedua pihak,” ujar Ahmad.
Dari kerja sama tersebut, kedua pihak juga membuka peluang menghasilkan berbagai luaran penelitian sesuai dengan perkembangan riset. Luaran tersebut dapat berupa pengetahuan ilmiah yang lebih mendalam, publikasi, maupun peluang pengembangan paten bersama.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!