Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Keamanan Pembayaran Digital Menghadapi Ancaman AI hingga Komputasi Kuantum

8 Minggu, 27 Sep 2026, 14:05 WIB | Oleh:
Keamanan Pembayaran Digital Menghadapi Ancaman AI hingga Komputasi Kuantum Keamanan Pembayaran Digital Menghadapi Ancaman AI hingga Komputasi Kuantum Doc: Visa
Ket. Sesi foto dalam acara Visa Indonesia Security Roadmap di Visa Indonesia Risk Forum yang digelar di Jakarta, pada hari Kamis (24/9). Pada ajang ini Visa memaparkan upaya industri pembayaran digital dalam memperkuat keamanan menghadapi penipuan berbasis AI, card-not-present fraud, serangan siber, dan ancaman komputasi kuantum.

JAKARTA — Perkembangan pembayaran digital membawa kemudahan bagi konsumen dan pelaku usaha, tetapi pada saat yang sama memperluas permukaan serangan bagi pelaku kejahatan siber. Modus penipuan juga berkembang seiring pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), sehingga industri pembayaran dituntut memperkuat sistem keamanan tanpa mengorbankan kemudahan transaksi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Visa Indonesia Risk Forum yang digelar di Jakarta, 24 September 2026. Dalam forum tersebut, Visa memperkenalkan pembaruan Visa Indonesia Security Roadmap, yang memuat sejumlah prioritas untuk memperkuat keamanan dan ketahanan ekosistem pembayaran Indonesia.

Forum yang diselenggarakan dua kali dalam setahun itu mempertemukan penerbit kartu, acquirer, merchant, regulator, dan berbagai mitra dalam ekosistem pembayaran. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membahas perkembangan risiko, bertukar pengalaman, serta membahas langkah menghadapi ancaman terhadap transaksi digital.

Visa Indonesia Security Roadmap pertama kali diperkenalkan pada 2018. Dokumen tersebut kemudian terus diperbarui mengikuti perkembangan teknologi, pola transaksi, dan bentuk ancaman yang dihadapi industri pembayaran.

Dalam pembaruan terbaru, terdapat lima prioritas utama. Fokus pertama adalah meningkatkan kemampuan industri dalam mengantisipasi dan merespons penipuan yang memanfaatkan AI.

AI dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan keamanan, tetapi teknologi yang sama juga dapat digunakan pelaku kejahatan untuk membuat modus penipuan menjadi lebih meyakinkan. Kemampuan menghasilkan teks, suara, gambar, maupun video sintetis, misalnya, dapat meningkatkan tantangan bagi sistem keamanan dalam membedakan komunikasi yang sah dari upaya penipuan.

Karena itu, pencegahan penipuan tidak lagi cukup hanya mengandalkan aturan sederhana berdasarkan jenis transaksi atau perangkat. Sistem perlu mampu mengenali pola perilaku dan anomali secara lebih dinamis.

Autentikasi Tak Lagi Hanya Mengandalkan Kata Sandi

Prioritas kedua dalam roadmap adalah pengembangan metode autentikasi yang lebih canggih, termasuk biometrik dan passkey.

Selama bertahun-tahun, kata sandi dan kode OTP menjadi salah satu lapisan autentikasi yang umum digunakan dalam layanan digital. Namun, keduanya juga menghadapi berbagai risiko, terutama ketika pengguna berhasil diyakinkan untuk menyerahkan kode atau informasi autentikasi kepada penipu.

Passkey dikembangkan sebagai alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan pada kata sandi. Teknologi ini memanfaatkan kriptografi kunci publik dan dapat dikombinasikan dengan mekanisme autentikasi pada perangkat, seperti biometrik atau PIN perangkat.

Dengan pendekatan tersebut, proses autentikasi tidak semata-mata bergantung pada sesuatu yang diketahui pengguna, seperti kata sandi atau kode, tetapi juga pada perangkat dan mekanisme keamanan yang digunakan untuk mengaksesnya.

Namun, perubahan teknologi autentikasi juga membutuhkan kesiapan dari seluruh ekosistem agar penerapannya dapat berlangsung secara konsisten dan mudah digunakan konsumen.

Ancaman Card-Not-Present Masih Menjadi Perhatian

Forum tersebut juga membahas penipuan pada transaksi tanpa kehadiran fisik kartu atau card-not-present fraud. Dalam transaksi semacam ini, kartu tidak digunakan secara fisik di hadapan merchant. Kondisi tersebut membuat sistem pembayaran membutuhkan metode lain untuk memastikan transaksi benar-benar dilakukan oleh pemegang kartu.

Perkembangan perdagangan elektronik membuat transaksi tanpa kehadiran kartu menjadi bagian penting dari aktivitas pembayaran digital. Di sisi lain, karakteristik transaksi tersebut juga menciptakan tantangan tersendiri dalam mendeteksi transaksi yang tidak sah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Soekarno Run Jadi Gerakan A...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.