Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BNPT Catat 620 Anak Terpapar Radikalisme Melalui Medsos

📅 Kamis, 03 Sep 2026, 03:17 WIB | Oleh: Tim Penulis
BNPT Catat 620 Anak Terpapar Radikalisme Melalui Medsos Doc: Antara
Ket. Kepala BNPT Eddy Hartono memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan Penguatan peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Pendidikan dalam rangka pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di satuan pendidikan yang berlangsung di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat 620 anak terpapar paham kekerasan dan radikalisme melalui media sosial (medsos) sepanjang Januari hingga 26 Agustus 2026.

“Menurut data dari aparat penegak hukum, dalam hal ini Densus 88 Antiteror Polri, dari Januari hingga 26 Agustus 2026 ada sebanyak 620 anak yang kategorinya terpapar, baik itu paham kekerasan maupun radikalisme,” kata Kepala BNPT Eddy Hartono dalam acara Penguatan peran Komite Sekolah, Pendidik, dan Tenaga Pendidikan dalam rangka pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di satuan pendidikan yang berlangsung di Jakarta, Rabu (2/9).

Eddy mengatakan anak-anak tersebut terpapar melalui berbagai platform media sosial, seperti podcast, forum, YouTube, dan platform digital lainnya.

Berdasarkan rentang usia, anak yang terpapar berusia 11 hingga 18 tahun dan tersebar di 34 provinsi di Indonesia. “Jadi ada yang terpapar melalui komunitas maupun ekosistem digital,” ujarnya.

Eddy menjelaskan sejumlah anak tergabung dalam komunitas atau ekosistem digital yang berinteraksi dengan informasi mengenai berbagai peristiwa kejahatan yang terjadi di dunia.

Salah satu komunitas yang dimaksud adalah True Crime Community. Menurut dia, komunitas tersebut tidak serta-merta berbahaya dan tidak dapat disamakan dengan ancaman terorisme. “Sebenarnya True Crime Community ini bukan komunitas yang berbahaya, jadi komunitas ini tidak sama dengan ancaman terorisme sebenarnya,” katanya.

Ia menjelaskan aktivitas dalam komunitas tersebut antara lain melakukan penelitian dan mencermati berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Karena itu, anggota komunitas tidak otomatis dapat disebut terpapar terorisme atau ekstremisme. Menurut Eddy, pencegahan juga perlu dilakukan tanpa memberikan stigma terhadap kelompok tertentu.

Komunitas tersebut dapat menjadi berbahaya ketika terjadi perubahan perilaku anggota, termasuk anak, pemuda, atau masyarakat, yang mulai mengagungkan dan menormalisasi kekerasan. “Nah, ini yang berbahaya, ketika ada perubahan perilaku,” ujarnya. Eddy mengatakan 620 anak yang terpapar tersebut telah mendapatkan intervensi dari aparat penegak hukum.

Selain itu, hasil penelitian BNPT menunjukkan media internet menjadi sarana yang paling efektif untuk propaganda, rekrutmen, dan pendanaan terorisme. “Nah, ini tiga hal yang menjadi perhatian kami,” kata Eddy.

Untuk mencegah penyebaran ekstremisme berbasis kekerasan di lingkungan pendidikan, BNPT bersinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, didukung Kementerian Agama (Kemenag) serta Kementerian Sosial (Kemensos).

Sinergi tersebut dilakukan melalui kegiatan penguatan peran komite sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan dalam pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme di satuan pendidikan. “Harapannya kegiatan ini dapat melahirkan komitmen yang nyata melalui penguatan kapasitas dan peran masing-masing pihak, baik tingkat pusat maupun daerah,” katanya. Ant/S-2

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Rona
7 Tahun Hiatus, Syahrini Co...
Luar Negeri
Tiba di AS, Xi Jinping Disa...
Advertisement
Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.