Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Melawan Antroposentrisme, Anak Muda Didorong Jadi Penjaga Nyata Meru Betiri

📅 Senin, 28 Sep 2026, 00:00 WIB | Oleh:
Melawan Antroposentrisme, Anak Muda Didorong Jadi Penjaga Nyata Meru Betiri Doc: Istimewa
Ket. Para peserta yang nantinya menjadi kader konservasi alam Taman Nasional Meru Betiri mendaoat mendapat materi beragam, mulai dari ekologi, kehutanan, karnivor besar, pengamatan burung, plaster cast, herbarium, analisis vegetasi, analisis air, penghitungan karbon, pengamatan masyarakat, hingga jurnalistik lingkungan dan advokasi.

BANYUWANGI - Sekelompok anak muda yang menjadi bagian dari pelaksanaan Meru Betiri Service Camp XVII (MBSC XVII), sebuah perhelatan tahunan berskala nasional yang dikemas dalam pendidikan kader konservasi alam tingkat pemula, berkumpul di tengah belantara Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jember, Jawa Timur, untuk belajar sekaligus memperkuat gerakan konservasi.

Kegiatan yang berlangsung di Camping Ground Sukamade TNMB tersebut digelar selama lima hari, mulai 23 hingga 27 September 2026. Pendidikan kader ini diselenggarakan oleh Kantor Balai Besar TNMB Kementerian Kehutanan dengan pelaksanaan operasional dibantu Wadah Informasi Pecinta Alam Se-Eks Karesidenan Besuki (WIPAB).

Ketua Panitia MBSC XVII, Waldi Gustiar, mengatakan kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan proses pembentukan kader konservasi alam tingkat pemula oleh Kantor Balai Besar TNMB.

"Kami membantu dalam operasional pelaksanaannya," ujar Waldi yang juga merupakan anggota Swapenka FIB Universitas Jember.

Para peserta tidak hanya mendapatkan materi konservasi di dalam kelas. Mereka juga diajak langsung bersentuhan dengan alam melalui berbagai praktik di kawasan TNMB.

Materi yang diberikan cukup beragam, mulai dari ekologi, kehutanan, karnivor besar, pengamatan burung, plaster cast, herbarium, analisis vegetasi, analisis air, penghitungan karbon, pengamatan masyarakat, hingga jurnalistik lingkungan dan advokasi.

Metode tersebut membuat MBSC tidak sekadar menjadi ruang pembelajaran teori. Peserta dituntut mengenali ekosistem secara langsung, memahami berbagai persoalan konservasi, sekaligus belajar bagaimana pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk mendukung upaya pelestarian alam.

"Ini adalah kegiatan yang sangat unik karena bukan saja materi konservasi yang luar biasa, namun juga menguatkan jejaring penggiat lingkungan," ungkap Febri, salah seorang peserta asal Palembang.

Febri mengatakan perjalanan panjang dari Palembang menuju Jember terbayar dengan pengalaman yang diperolehnya selama mengikuti kegiatan. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah pengamatan penyu hingga pelepasan tukik di kawasan Sukamade.

Pengalaman langsung tersebut menjadi bagian penting dari proses pendidikan kader. Peserta tidak hanya mempelajari lingkungan sebagai teori, tetapi melihat dan berinteraksi langsung dengan ekosistem serta satwa yang menjadi bagian dari kawasan konservasi Meru Betiri.

Kepala Balai TNMB, RM Wiewied Widodo, juga mengingatkan para peserta agar proses pendidikan tersebut tidak berhenti setelah mereka dinyatakan lulus dan memperoleh kartu kader konservasi.

"Sudah seharusnya ada kontribusi lebih pada dunia konservasi setelah ikut MBSC, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan tempat kalian," tegas Wiewied.

Menurutnya, status sebagai kader konservasi seharusnya diikuti dengan aksi nyata sesuai persoalan lingkungan yang ditemukan di masing-masing daerah.

Sementara itu, Ketua WIPAB Charlowik Nicholas Kaluara menjelaskan MBSC merupakan agenda kolaboratif yang melibatkan berbagai organisasi pecinta alam se-Eks Karesidenan Besuki.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.