Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bukan Cuma Soal Pasokan, Efisiensi Distribusi Jadi Kunci Stabilkan Harga Pangan

📅 Jumat, 25 Sep 2026, 17:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bukan Cuma Soal Pasokan, Efisiensi Distribusi Jadi Kunci Stabilkan Harga Pangan Doc: ANTARA/ Harianto
Ket. Arsip foto - Bawang merah dan komoditas pangan lainnya yang dijual di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

JAKARTA – Fokus pemerintah terhadap penguatan efisiensi distribusi, transparansi data, dan kecepatan intervensi pasar dinilai menjadi solusi dalam mengantisipasi gejolak harga pangan.

"Tata kelola rantai pasok pangan yang ideal untuk mencegah gejolak harga berfokus pada efisiensi distribusi, transparansi data, dan kecepatan intervensi pasar," kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti di Jakarta, Jumat (25/9).

Pernyataan tersebut merespons inflasi kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) yang pada Agustus 2026 tercatat 4,06 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari 2,52 persen pada Juli 2026.

Bank Indonesia (BI) mencatat kenaikan inflasi pangan bergejolak pada Agustus terutama disumbang daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Secara bulanan, kelompok tersebut mengalami inflasi 0,88 persen setelah pada Juli mencatat deflasi 1,68 persen.

Pergerakan harga pangan terkini juga menunjukkan tekanan pada sejumlah komoditas.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, dibandingkan Jumat (18/9/2026) pekan lalu, harga rata-rata sejumlah komoditas pada Jumat ini meningkat.

Di antaranya, harga cabai rawit merah naik 3,33 persen menjadi Rp99.250 per kg, cabai merah keriting naik 56,93 persen menjadi Rp105.300 per kg, telur ayam ras naik 6,86 persen menjadi Rp31.950 per kg, daging ayam ras naik 17,89 persen menjadi Rp48.100 per kg, dan beras medium I naik 7,01 persen menjadi Rp17.550 per kg.

Esther mengatakan salah satu langkah yang dapat ditempuh pemerintah adalah memangkas jalur distribusi pangan karena rantai pasok yang panjang dapat meningkatkan biaya hingga tingkat konsumen.

"Semakin panjang rantai pasok maka semakin mahal biaya distribusi. Mata rantai tradisional yang melibatkan 4 hingga 8 titik, dari petani, tengkulak, pengepul, penggilingan, pedagang besar, hingga pengecer, membuat margin harga membengkak," ujarnya.

Selain memperpendek jalur distribusi, ia menilai infrastruktur logistik dan teknologi rantai dingin (cold chain) juga perlu diperkuat, khususnya untuk komoditas hortikultura yang mudah rusak seperti cabai dan bawang.

Menurut Esther, kehilangan pangan akibat penanganan logistik yang kurang baik dapat mengurangi pasokan komoditas yang sampai ke pasar sehingga berpotensi memicu kelangkaan.

Pentingnya perbaikan tersebut juga tercermin dalam Rencana Strategis Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan 2025-2029 yang mencatat susut hasil pascapanen komoditas hortikultura mencapai 20-35 persen

Dokumen itu juga mengidentifikasi keterbatasan fasilitas penyimpanan dan rantai dingin sebagai salah satu kendala distribusi pangan.

Esther selanjutnya menilai digitalisasi dan transparansi data sistem informasi pangan perlu diperkuat agar kondisi produksi, stok, dan distribusi dapat dipantau secara lebih baik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
Pemkab Bekasi Bentuk TP2D A...
Megapolitan
Tangsel Otozone Jadi Sarana...
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.