Dorong Surplus Beras, Menko Pangan Dorong Pengembangan Varietas Baru
📅 Jumat, 04 Sep 2026, 13:25 WIB | Oleh: SriyonoMemasuki 2026, BPS mencatat luas panen padi secara kumulatif pada Januari-Juli mencapai 7,24 juta hektare atau naik 0,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, potensi produksi beras pada Agustus-Oktober 2026 diperkirakan mencapai 9,33 juta ton, turun tipis 0,90 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Potensi luas panen pada periode tersebut diperkirakan mencapai 3,07 juta hektare.
Kementerian Pertanian (Kementan) mengacu pada proyeksi neraca pangan 2026 yang memperkirakan produksi beras nasional mencapai sekitar 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 31,10 juta ton. Dengan proyeksi tersebut, produksi beras diperkirakan surplus sekitar 3,67 juta ton pada tahun ini.
Di sisi cadangan pemerintah, Perum Bulog hingga 2 September 2026 telah menyerap sekitar 3,7 juta ton beras dari target 4 juta ton sepanjang tahun ini. Stok beras yang tersimpan di gudang Bulog dan gudang mitra pada saat yang sama mencapai sekitar 5,4 juta ton.
Untuk memperkuat produktivitas, Kementan menargetkan penerapan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) pada areal hingga 1 juta hektare pada 2026.
Sistem tersebut mengintegrasikan penggunaan varietas unggul, mekanisasi, pemupukan, pengelolaan air, dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Penerapan PM-AAS antara lain telah diuji di Lampung Tengah. Kementan mencatat hasil ubinan pada demfarm seluas 100 hektare pada Agustus 2026 mencapai rata-rata 11,2 ton gabah per hektare dengan penggunaan varietas Inpari 32 dan Inpari 49, disertai mekanisasi serta dukungan sarana produksi dan irigasi.
Kementan juga memperkuat sisi perbenihan dan varietas. Hingga Agustus 2026, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian mencatat 889 sertifikat Hak Perlindungan Varietas Tanaman telah diterbitkan sejak 2007, termasuk 87 varietas padi.
Kementerian menyebut penyediaan varietas unggul yang adaptif dan berumur genjah menjadi salah satu bagian penting untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
Zulhas menilai penguatan teknologi, varietas, dan mekanisasi menjadi penting agar peningkatan produksi tidak hanya menghasilkan kecukupan pangan dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat kemandirian pangan nasional secara berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!