Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Diskusi dengan Peraih Nobel Kailash Satyarthi: Demokrasi dan Pemilu Digelar, tapi Kenapa Rakyat Tetap Tak Berdaya?

4 Senin, 31 Agu 2026, 17:17 WIB | Oleh:

Forum digelar tiga hari setelah gelombang unjuk rasa melanda sejumlah kota, konteks yang diangkat Sudirman Said dalam sambutan pembuka. Ia mengingatkan pemilu, parlemen, konstitusi, dan pengadilan memang esensial, tapi bukan tujuan akhir.

"Sebuah demokrasi bisa saja menjaga prosedurnya sementara rakyat justru merasa semakin tidak berdaya. Pemilu tetap digelar sementara ketimpangan kian dalam. Hukum melindungi hak di atas kertas, sementara hak itu tetap tidak terjangkau oleh mereka yang paling membutuhkannya. Kita tidak hanya butuh pengkritik sistem, tetapi juga pembangun sistem yang lebih baik." kata Sudirman.

Jawaban yang ditawarkan Satyarthi atas semua persoalan itu adalah compassion, konsep yang ia tolak disamakan dengan simpati, empati, atau belas kasihan. Ia menjelaskannya lewat cerita tiga bersaudara yang melewati lelaki terluka di jalan. Yang pertama, Simpati, berhenti sebentar, menyatakan turut sedih, lalu buru-buru ke sekolah. Yang kedua, Empati, ikut menangis sampai tak bisa berkonsentrasi di kelas. Yang ketiga, compassion, membawa lelaki itu ke klinik dengan uang sakunya, lalu kembali menimbun lubang yang membuatnya jatuh, sampai orang-orang di sekitarnya ikut membantu.

Ia memperingatkan bahaya empati berlebih. Dokter, pengacara, dan hakim yang cuma berempati akan mengalami kelelahan empati, dan kelelahan itu berujung apati. "Compassion bukan emosi yang lembut. Compassion adalah kekuatan." kata Satyarthi.

Menurutnya compassion adalah daya yang mendisrupsi dan transformatif, yang membongkar sistem eksploitasi berumur berabad-abad, bukan sekadar menambal akibatnya. Argumen itu ia sandarkan pada pengalaman pribadi. Separuh tubuhnya pernah patah akibat serangan mafia perbudakan, dan ia kehilangan rekan kerja dalam operasi pembebasan anak. Dunia, kata dia, sudah mengglobalkan pasar, data, ekstremisme, dan krisis iklim. "Inilah saatnya mengglobalkan compassion." kata Satyarthi.

Menutup forum, Sudirman mengangkat konsep fourth sector movement. Hari ini sektor bisnis dikejar target laba dengan ongkos ketimpangan dan kerusakan ekologi, sektor publik kelelahan karena terlalu banyak berjanji dengan kapasitas fiskal terbatas, sementara sektor sosial punya agenda besar tapi sumber daya kecil. Di situlah ia menempatkan kampus sebagai jembatan antarsektor, sekaligus menyampaikan bahwa universitas akan menerima ajakan Satyarthi untuk riset bersama mengembangkan konsep compassionate leadership.

"Kalau kita bisa menumbuhkan compassion di dalam kampus, saya kira kita bisa memainkan peran sebagai jembatan kolaborasi antarsektor. Karena pada kenyataannya bekerja bersama itu sebuah keharusan." pungkas Sudirman.

Sebagai informasi, Kailash Satyarthi menerima Nobel Perdamaian 2014 bersama Malala Yousafzai atas kerja pembebasan anak dari perbudakan dan perdagangan orang. Ia meninggalkan profesi insinyur listrik pada akhir 1970-an, saat belum ada hukum internasional yang melarang perbudakan anak. Pada 1998 ia menggerakkan Global March Against Child Labour, pawai lintas negara yang melewati Indonesia dan berujung pada lahirnya Konvensi ILO tentang bentuk-bentuk terburuk pekerja anak, satu-satunya konvensi ILO yang kini diratifikasi seluruh negara anggota. Kini ia menggerakkan Satyarthi Movement for Global Compassion, gagasan yang ia bawa ke Jakarta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...

Malaysia Benar-benar Menggunduli Indonesia

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Malaysia Benar-benar Menggu...
Megapolitan
Cari Solusi Problem Kota-ko...
Luar Negeri
Cadangan Gas Eropa Terendah...

Anggaran Perumahan Jakarta Disiapkan Rp1,54 Triliun

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Anggaran Perumahan Jakarta ...
Megapolitan
Kabupaten Bogor Dapat 1.200...
Advertisement
Terkonfirmasi, Jenderal LSP Ditahan di Rutan Mabes Polri   

Terkonfirmasi, Jenderal LSP Ditahan di Rutan Mabes Polri  

03 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.