Mengagetkan Hasil Penelitian Ini, Kebiasaan Mengambil “Screenshot” Bisa Memicu Gangguan Ingatan
📅 Jumat, 28 Agu 2026, 09:17 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - Kebiasaan mengambil screenshot (tangkapan layar) ponsel menurut penelitian dari Binghamton University, New York, Amerika Serikat, berkaitan dengan gangguan ingatan.
Mengambil screenshot merupakan cara seseorang untuk mengingat atau menyimpan informasi yang mereka butuhkan ketika sedang mengakses ponsel. Penelitian berjudul "Digital Amnesia: The Aftermath of a Screenshot", seperti yang dimuat oleh New York Post, Sabtu (22/8), menemukan bahwa kebiasaan tersebut justru membuat seseorang lebih mudah melupakan sesuatu,
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai photo-taking impairment effect atau efek gangguan akibat mengambil foto. Fenomena tersebut terjadi ketika orang yang mengambil gambar justru mengingat lebih sedikit dibandingkan orang yang hanya melihat gambar tersebut lalu melanjutkan aktivitasnya.
Mengambil screenshot sebenarnya bisa memberikan manfaat, tetapi hanya jika gambar tersebut dilihat kembali setelahnya. Masalah muncul ketika seseorang mengambil gambar tetapi tidak pernah melihatnya lagi.
"Jika Anda tidak secara aktif meninjau kembali gambar-gambar tersebut sebagai petunjuk, kemungkinan besar gambar itu tidak akan memberikan manfaat bagi ingatan," ujar penulis penelitian Sophia Fabrizio.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sekitar 90 persen warga AS menggunakan ponsel dan salah satu fungsi utama perangkat tersebut adalah mengambil foto. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa rata-rata orang mengambil sekitar 20 foto setiap hari dan menyimpan sekitar 2.000 foto di perangkat.
Dalam penelitian ini, para mahasiswa diperlihatkan berbagai gambar karya seni, mulai dari foto, lukisan, hingga sketsa. Mereka kemudian diminta mengambil screenshot terhadap beberapa gambar tersebut.
Setelah itu, para peserta diminta memilih satu dari tiga pilihan untuk menentukan karya seni yang sebelumnya mereka lihat. Para peneliti sengaja memilih gambar-gambar yang memiliki kemiripan sangat dekat dengan karya seni aslinya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peserta tidak cukup hanya mengingat gambaran umumnya untuk menjawab dengan benar. Peneliti menemukan bahwa peserta tidak mengingat gambar yang mereka screenshot sebaik gambar yang hanya mereka lihat.
Bahkan, seseorang lebih kecil kemungkinannya untuk mengingat bahwa mereka pernah mengambil screenshot gambar tersebut. Mereka justru lebih mungkin mengingat gambar mana yang tidak mereka screenshot.
Fenomena itu bisa terjadi menurut sejumlah teori dan para penulis penelitian menyoroti teori-teori ini yang berkaitan dengan fenomena itu sebaiknya dipandang sebagai faktor yang saling berkontribusi, bukan sebagai satu-satunya penyebab.
Teori pertama divided attention, perhatian terbagi, menyebutkan bahwa tindakan mengambil foto atau screenshot mengalihkan perhatian dan sumber daya kognitif yang seharusnya digunakan otak untuk membentuk ingatan.
Kedua, teori cognitive offloading menyatakan bahwa seseorang tidak berusaha sekeras mungkin untuk mengingat sesuatu ketika mengetahui informasi tersebut sudah tersimpan di tempat lain. Misalnya, menghafal nomor telepon kini dianggap tidak terlalu penting karena semuanya sudah tersimpan di ponsel.
Bahkan ketika peserta penelitian mengetahui bahwa gambar mereka akan langsung dihapus dan tidak disimpan secara eksternal, mereka tetap tidak mampu mengingat gambar yang di-screenshot dengan baik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!