Unib Sulap Pisang Enggano Jadi Camilan Modern, Nilai Jual UMKM Royal Banana Caramel Makin Tinggi
📅 Rabu, 26 Agu 2026, 11:32 WIB | Oleh: Tim PenulisBengkulu - Universitas Bengkulu (Unib) membantu UMKM Royal Banana Caramel di Pulau Enggano mengolah komoditas lokal pisang menjadi produk pangan yang lebih modern dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Ketua Tim Pengabdian Unib untuk Peningkatan Nilai Ekonomi Produk Selly Ratna Sari, M.Si., mengatakan pendampingan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat menarik perhatian konsumen melalui branding dan kemasan.
"Perhatian tidak hanya diberikan pada produk, tetapi juga pada bagaimana produk tersebut 'berbicara' kepada konsumen. Branding dan kemasan menjadi bagian penting karena produk lokal yang memiliki cita rasa baik belum tentu mampu menarik perhatian pasar apabila identitas visual dan penyajiannya belum mendukung," kata Selly di Bengkulu, Selasa (25/8).
Peningkatan produk dilakukan melalui pelatihan branding, pemasaran, serta teknik pengawetan pisang yang digunakan sebagai bahan baku Royal Banana Caramel.
Program tersebut memanfaatkan beragam jenis pisang yang tumbuh di Pulau Enggano. Selama ini, hasil perkebunan tersebut belum selalu memberikan nilai ekonomi optimal karena pisang segar memiliki daya tahan terbatas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gangguan akses transportasi laut juga dapat membuat hasil panen yang tidak segera terserap pasar berisiko membusuk dan terbuang. Karena itu, pengolahan pisang menjadi produk pangan dinilai dapat memperpanjang masa pemanfaatan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Melalui program pengabdian kepada masyarakat, Unib mendorong pisang sebagai komoditas mentah diolah menjadi produk dengan identitas merek yang lebih kuat.
Salah satu perubahan terlihat pada kemasan Royal Banana Caramel. Sebelum mendapat pendampingan, produk tersebut umumnya menggunakan plastik bening dengan stiker sederhana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setelah pendampingan, kemasan diarahkan menjadi lebih menarik dan informatif sehingga tidak hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga menjadi identitas merek sekaligus media komunikasi dengan konsumen.
Selain branding dan kemasan, pendampingan mencakup aspek legalitas, keamanan pangan, pengawetan, serta pemasaran.
Pengembangan UMKM tersebut diarahkan tidak hanya pada kemampuan mengolah makanan, tetapi juga memperhatikan keamanan produk, legalitas, identitas merek, kemasan, dan strategi pemasaran agar mampu memiliki daya saing lebih baik di pasar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!