Jangan Salah Kelola! Kawasan Transmigrasi Berpeluang Jadi Pusat Ekonomi Masa Depan
📅 Selasa, 25 Agu 2026, 09:40 WIB | Oleh: Tim Penulis“Masa depan transmigrasi bukan memindahkan orang terlebih dahulu lalu berharap peluang ekonomi menyusul. Kita harus menciptakan peluang ekonomi, menyiapkan pekerjaan dan kehidupan yang layak, baru mobilitas penduduk mengikuti secara sukarela, aman, dan dengan kepastian masa depan,” ujar Iftitah.
Menurut dia, kawasan transmigrasi diarahkan menjadi ekosistem ekonomi yang menghubungkan masyarakat, lahan, ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, industri, dan pasar.
Ekosistem tersebut mencakup seluruh rantai nilai mulai dari riset dan pembibitan, produksi, pengolahan, pengemasan, logistik hingga pemasaran agar nilai tambah lebih banyak diciptakan dan dinikmati masyarakat di daerah.
Iftitah mencontohkan konsumsi durian di China yang disebut mencapai sekitar Rp137 triliun per tahun sebagai peluang untuk membangun ekosistem industri komoditas tersebut di Indonesia, bukan hanya mengekspor bahan mentah.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kita tidak boleh berhenti pada menanam dan mengekspor komoditas mentah. Kita harus membangun seluruh ekosistem ekonominya di Indonesia, mulai dari riset dan pembibitan hingga budidaya, pengolahan, logistik, produk hilir, dan pemasaran global,” katanya.
Paradigma baru transmigrasi dijalankan melalui lima program unggulan, yakni Trans Tuntas untuk kepastian hukum lahan, Trans Lokal untuk pemberdayaan masyarakat setempat, Trans Patriot untuk penguatan SDM dan teknologi, Trans Karya Nusantara untuk investasi dan penciptaan pekerjaan, serta Trans Gotong Royong untuk memperkuat kolaborasi pemangku kepentingan.
“Transmigrasi hari ini tidak bisa berjalan sendirian. Kepastian lahan, infrastruktur, konektivitas, energi, investasi, pasar, tata kelola, dan sumber daya manusia harus dibangun bersama dalam satu ekosistem,” tutur Iftitah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menegaskan masyarakat setempat harus menjadi tuan rumah, pelaku utama, sekaligus penerima manfaat pembangunan kawasan. Pertumbuhan investasi dan industri harus diikuti peningkatan nilai tambah, pekerjaan, pengetahuan, serta kesejahteraan di daerah.
Sebagai bagian dari penguatan SDM kawasan, Kementerian Transmigrasi pada 2026 menerjunkan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang tergabung dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi.
Sebanyak 53 lokasi tersebut terdiri atas 41 kawasan prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, dan 10 kawasan di Papua.
Peserta TEP 2026 terdiri atas 39 guru besar, 158 doktor, 263 lulusan magister, dan 1.016 sarjana yang ditugaskan menindaklanjuti pemetaan potensi kawasan melalui riset, pendampingan, serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Iftitah mengatakan para patriot diharapkan tidak berhenti pada penelitian dan laporan, tetapi memahami potensi serta persoalan di lapangan, mendampingi masyarakat, dan menghubungkan potensi lokal dengan teknologi, industri, investasi, serta pasar.
“Para patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan,” ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!