Dibangun Bersama Guru Disabilitas, Papan Tulis AI Buatan Siswa Bandung Raih Juara Google
📅 Selasa, 25 Agu 2026, 00:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SDalam pengembangannya, kedua siswa tersebut juga menghadapi berbagai persoalan teknis. Pada tahap awal, sistem AI belum selalu memahami perintah dengan tepat. Instruksi untuk membuat teks terkadang menghasilkan mind map, sementara perintah membuat mind map dapat berubah menjadi kuis.
Tim kemudian memperbaiki instruksi dan memisahkan jenis tugas agar sistem dapat menentukan tindakan yang sesuai.
“Kami mengalami banyak kegagalan saat membuat penugasan kecil untuk agen AI. Ada perintah membuat teks yang malah menghasilkan mind map, atau perintah membuat mind map yang berubah menjadi kuis. Bug dan error juga muncul setiap kali kami melakukan pengujian,” kata tim TRIDO.
Salah satu pengembangan yang kemudian disederhanakan adalah sistem penerjemahan. Awalnya, tim merancang lapisan tambahan untuk menerjemahkan perintah berbahasa Indonesia sebelum diproses AI. Setelah pengujian, mereka menemukan Gemma 4 dapat memahami instruksi berbahasa Indonesia, termasuk istilah sastra, dan mengubahnya langsung menjadi function call berbahasa Inggris.
TRIDO juga dirancang mempertimbangkan kondisi kelas dengan koneksi internet terbatas. Tim mengembangkan mode luring menggunakan Gemma 4 melalui Ollama. Menurut tim, sistem tersebut dirancang agar dapat dijalankan pada perangkat dengan kapasitas RAM 4–8 GB.
Untuk menghadapi kondisi ruang kelas yang bising, tim menggunakan sistem dual-path untuk input suara. Web Speech API menjadi jalur utama, sementara sistem perekaman digunakan sebagai fallback ketika pengenalan suara tidak bekerja secara optimal.
Perjalanan TRIDO kemudian berlanjut ke kompetisi global Gemma 4 Good Hackathon. Kompetisi tersebut menyediakan total hadiah US$200.000 dan mengajak peserta memanfaatkan model terbuka Gemma 4 untuk membuat solusi AI di berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, pemerataan akses digital, dan ketahanan global.
Tim TRIDO meraih posisi kedua kategori utama dengan hadiah US$25.000. Pengumuman pemenang dilakukan melalui Kaggle pada 22 Agustus 2026.
Kompetisi tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai pelajar dan mahasiswa hingga pengembang perangkat lunak, peneliti, dan profesional AI. Data yang disampaikan tim mencatat 14.523 pendaftar, 2.235 peserta aktif, 1.608 tim, dan 1.609 proyek.
Bagi Ardellio dan Azhar, keterlibatan pengguna disabilitas sejak tahap awal menjadi bagian penting dalam pengembangan TRIDO. Mereka tidak menempatkan aksesibilitas sebagai fitur tambahan setelah produk selesai, tetapi menjadikannya dasar dalam merancang sistem.
Dukungan juga datang dari SMA Kartika XIX-1 Bandung yang menyediakan fasilitas dan laboratorium komputer untuk pengembangan proyek.
Kemenangan di kompetisi Google tersebut menjadi capaian bagi dua siswa Bandung sekaligus menunjukkan bagaimana kebutuhan seorang guru penyandang disabilitas dapat diterjemahkan menjadi inovasi teknologi pendidikan.
Ardellio dan Azhar berharap TRIDO dapat terus diuji bersama lebih banyak guru penyandang disabilitas, sekolah inklusif, dan Sekolah Luar Biasa sehingga pengembangannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna yang lebih beragam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!