UEFA, AFC, dan CONCACAF Pertimbangkan Mosi Tidak Percaya untuk Lengserkan Gianni Infantino
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 00:02 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraPresiden CAF Patrice Motsepe pekan lalu menegaskan bahwa Infantino masih mendapat dukungan Afrika. Menurutnya, masa depan Infantino seharusnya ditentukan oleh seluruh anggota FIFA melalui pemilihan presiden.
Enam asosiasi sepak bola Arab, termasuk Qatar dan Maroko yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030, juga secara terbuka memberikan dukungan kepada Infantino.
FIFA sebelumnya meminta maaf kepada 211 asosiasi anggotanya atas kesalahan dalam proses penanganan proposal investasi swasta tersebut. Dalam pertemuan krisis di Maroko awal bulan ini, jajaran pimpinan FIFA kembali menyatakan dukungan penuh kepada Infantino.
Namun, seorang tokoh senior yang mengetahui pembicaraan mengenai mosi tidak percaya mengatakan, tiga konfederasi sebenarnya cenderung mendukung langkah tersebut. Masalahnya, mereka khawatir kegagalan mosi justru akan memperkuat posisi Infantino.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika Infantino berhasil memenangkan pemungutan suara, hal itu akan menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki dukungan elektoral yang kuat dan dapat memperkokoh posisinya menjelang pemilihan presiden tahun depan.
Krisis bermula dari rencana kontroversial Infantino untuk menjual sebagian saham pada entitas komersial baru FIFA kepada investor swasta.
Entitas tersebut dirancang untuk mengendalikan hak komersial Piala Dunia, kompetisi terbesar dan paling menguntungkan dalam kalender sepak bola dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
FIFA sebelumnya memperkirakan pendapatannya pada siklus 2023-2026 akan menembus 15 miliar dolar AS, dengan sebagian besar pendapatan dihasilkan pada tahun penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Namun, proposal investasi tersebut mendapat penolakan keras dari tiga dari enam konfederasi kontinental FIFA—UEFA, AFC, dan CONCACAF.
Ketiganya mempertanyakan proses pengambilan keputusan, terutama terkait transparansi, konsultasi dengan konfederasi dan asosiasi anggota, serta tata kelola organisasi.
FIFA akhirnya membatalkan rencana tersebut setelah mendapat tekanan besar. Infantino mengakui proposal itu telah menimbulkan perpecahan di dunia sepak bola dan tidak lagi sejalan dengan tujuan awal yang ingin dicapai.
Krisis kemudian semakin dalam setelah kepergian Chief Operating Officer FIFA Kevin Lamour.
Lamour sebelumnya mengkritik proposal investasi tersebut dan menyatakan bahwa staf FIFA telah “ditipu” mengenai proyek yang menurutnya merupakan gagasan satu orang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!