Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menggunakan Rorak untuk Mengurangi Risiko Banjir

📅 Jumat, 21 Agu 2026, 23:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menggunakan Rorak untuk Mengurangi Risiko Banjir Doc: Antara
Ket. Pembuatan rorak untuk sumur resapan di Cirebon, Jawa Barat.

Cirebon - Pemerintah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menggunakan rorak sebagai lubang resapan untuk menahan limpasan air hujan dari kawasan dataran tinggi guna mengurangi risiko banjir di wilayah Sumber dan sekitarnya.

Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman di Cirebon, Jumat, mengatakan pembuatan rorak menjadi bagian dari upaya konservasi tanah dan air, dengan meningkatkan kemampuan lahan dalam menahan serta menyerap air hujan.

"Sidawangi merupakan dataran tinggi, supaya air dari atas itu tidak langsung limpas ke bawah, ditahan dulu oleh rorak," katanya.

Menurut dia, rorak berfungsi memperlambat aliran air permukaan sehingga limpasan dari wilayah yang lebih tinggi tidak langsung mengalir ke kawasan di bawahnya.

Ia mengatakan upaya tersebut bagian dari Gerakan Rehabilitasi dan Konservasi Lingkungan dilakukan Pemkab Cirebon bersama masyarakat di Desa Sidawangi, Kecamatan Sumber.

Selain membuat rorak, pemerintah daerah juga melakukan penanaman pohon di sejumlah tempat yang memiliki fungsi sebagai kawasan resapan air.

"Kita ingin menjaga lingkungan agar ke depannya tidak lagi terjadi banjir di wilayah sekitar sini, terutama Desa Sidawangi dan Sumber," ujarnya.

Ia mengatakan penanganan banjir membutuhkan kolaborasi antara pemerintah desa, kecamatan, dan pemerintah kabupaten sehingga kegiatan konservasi dapat diterapkan di wilayah lain.

Pemkab Cirebon akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memetakan kawasan yang memiliki risiko banjir.

Kepala DLH Kabupaten Cirebon Dede Sudiono mengatakan pembuatan rorak dan penanaman pohon untuk meningkatkan tutupan vegetasi sekaligus memperbesar kemampuan tanah dalam menyerap air.

Menurut dia, konservasi tanah dan air diperlukan untuk membangun lingkungan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan mengurangi potensi limpasan permukaan.

DLH dalam kegiatan tersebut menanam 150 pohon yang terdiri atas mahoni, jamblang, dan glodokan di tiga lokasi di Desa Sidawangi.

Dia mengatakan keberhasilan konservasi lingkungan juga bergantung pada keterlibatan masyarakat, dalam merawat tanaman dan menjaga fungsi kawasan resapan air.

"Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar pohon yang ditanam dapat tumbuh dan fungsi ekologis kawasan terus terjaga," ujarnya

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mentan Amran: Stok Beras NTT 39 Ribu Ton, Lahan Rusak Akibat Gempa Akan Diganti
    Preview komentar:
    Semoga dapat membantu dan meringankan beban saudara kita ...
    Luar biasa pak mentan dengan kepeduliannya dan gerak ...
  • Tumbuh Kuat, BI Sebut Industri Pengolahan dan Perdagangan Jadi Penopang Ekonomi Jateng
    Preview komentar:
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai ketangguhan ekonomi Jateng; ...
  • BUMN Tak Cukup Andalkan Aset, Menperin Minta Perkuat Hilirisasi dan Rantai Pasok Industri
    Preview komentar:
    Pernyataan Bapak Agus Gumiwang yang menggarisbawahi urgensi penguatan ...
Kepolisian Resor Kotawaringin Barat Akan Menindak Tegas Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan

Kepolisian Resor Kotawaringin Barat Akan Menindak Tegas Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan

21 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.