Magnet Perhatian, Arumi Bachsin Dandani Emil Dardak Busana Dayak Kenyah Demi Meriahkan Hari Kemerdekaan
📅 Senin, 17 Agu 2026, 20:57 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
SURABAYA — Suasana upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (17/8), mendadak riuh oleh decak kagum. Di tengah jajaran tamu undangan, penampilan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama sang istri, Arumi Bachsin, menjadi sorotan utama.
Pasangan ini tampil serasi membawakan keanggunan busana adat Dayak Kenyah dari Kalimantan Timur. Lengkap dengan detail payet yang rumit serta hiasan bulu khas, busana tersebut menghadirkan warna baru di tengah tradisi kebaya Jawa yang biasanya mewarnai momentum kemerdekaan di Jawa Timur.
Eksplorasi Budaya dan Pesan Persatuan
Arumi mengaku, pilihan mengenakan pakaian adat dari Borneo berawal dari keinginannya untuk keluar dari zona nyaman. Setelah tahun-tahun sebelumnya kerap mengenakan kebaya Jawa Timur hingga busana adat Palembang, kini ia menjajal khazanah Nusantara yang berbeda.
"Sebenarnya ingin sesuatu yang berbeda saja. Di setiap kegiatan saya kan lebih banyak pakai kebaya, terutama kebaya Jatim," tutur Arumi saat ditemui seusai upacara. "Ide pakai busana Dayak ini sebenarnya sudah lama. Saya memang penasaran ingin mencoba busana yang ada aksen bulunya."
Sebaiknya Anda baca juga:
Agar tidak keliru dalam menjaga pakem dan nilai tradisi, pasangan ini mendatangkan langsung seluruh perlengkapan busana tersebut dari Kalimantan Timur. Komunikasi pun dibangun melalui jaringan relasi mereka, termasuk berkoordinasi dengan pihak Wakil Gubernur Kalimantan Timur.
Meski begitu, beberapa penyesuaian yang fleksibel tetap dilakukan—seperti mengubah bawahan celana Emil dari potongan pendek menjadi panjang—tentunya atas izin para pemangku adat setempat.
Senada dengan Arumi, Emil Dardak menilai momen peringatan kemerdekaan adalah panggung terbaik untuk mensyukuri kekayaan budaya Indonesia tanpa sekat wilayah.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Indahnya NKRI adalah bagaimana kita yang berada di Jawa Timur bisa merayakan dan mengenakan keindahan budaya dari berbagai penjuru Indonesia," ujar Emil.
Cerita unik
Di balik keanggunan yang terpancar, terselip cerita menggelitik selama jalannya upacara. Emil menceritakan pengalamannya saat mengenakan penutup kepala khas Dayak Kenyah yang cukup tinggi dan belum sempat diikat kencang.
Ketika angin Surabaya berhembus kencang di pelataran Grahadi, ia harus sigap menjaga keseimbangan hiasan kepalanya.
"Kalau pas kena angin tadi agak 'tuing' (bergoyang). Jadi posisi kepala harus disesuaikan menyamping mengikuti arah angin," seloroh Emil yang disambut tawa Arumi.
Sambil berseloroh, Arumi menambahkan bahwa momen kemerdekaan adalah kesempatan langka baginya untuk melihat sang suami didandani dengan atribut adat yang begitu atraktif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!